Jumat, 19 Mei 2017

Hipotesis Penelitian

Hipotesis Penelitian



MAKALAH
HIPOTESIS PENELITIAN
Makalah Ini Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
METODE PENELITIAN
DOSEN : DR. Afiful Ikhwan, M.Pd.I
Oleh:
MUHAMMAD HAMKA SAFI’I
YUSUUF ARIFIN
PAI B / IV
PROGAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM MUHAMMADIYAH TULUNGAGUNG
Februari2017
 


BAB II
PEMBAHASAN
Hipotesis atau hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya[[1]]. Sedangkan Hipotesis Penelitian Menurut Sugiyono (2009: 96) [[2]], hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk pertanyaan. Dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori. Hipotesis dirumuskan atas dasar kerangka pikir yang merupakan jawaban sementara atas masalah yang dirumuskan.

Penelitian yang merumuskan hipotesis adalah penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Pada penelitian kualitatif hipotesis tidak dirumuskan, tetapi justru diharapkan dapat ditemukan hipotesis. Selanjutnya hipotesis tersebut akan diuji dengan pendekatan kuantitatif

Pengertian Hipotesis Penelitian | Hipotesis (hypo = sebelum; thesis = pernyataan, pendapat) adalah suatu pernyataan yang pada waktu diungkapkan belum diketahui kebenarannya. Biasanya, dalam sebuah penelitian kita merumuskan suatu hipotesis terhadap masalah yang akan diteliti. Jadi, pengertian hipotesisadalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Dikatakan sementara karena, jawaban yang diberikan melalui hipotesis baru didasarkan teori, dan belum menggunakan fakta. Hipotesis memungkinkan kita menghubungkan teori dengan pengamatan, atau pengamatan dengan teori. Hipotesis mengemukakan pernyataan tentang harapan peneliti mengenai hubungan-hubungan antara variabel-variabel dalam persoalaan.
Sebagai contoh, ada sebuah pertanyaan tentang; apakah tamatan SMU yang memiliki nilai UN tinggi akan mampu menyelesaikan studi perguruan tinggi dalam waktu yang relatif lebih cepat? Pertanyaan ini dapat kita ubah menjadi pernyataan sebagai berikut: ada hubungan positif antara nilai UN SMA dan prestasi belajar mahasiswa di perguruan tinggi. Kalimat yang terakhir ini adalah bentuk suatu rumusan hipotesis yang menghubungkan dua variabel, yaitu nilai UN dan prestasi belajar. Dengan demikian, hipotesis ini memberikan arah pada penelitian yang harus dilakukan[[3]]

B.         Fungsi Hipotesis
Hipotesis pada penelitian itu sendiri berfungsi sebagai berikut:
1.      Memberikan penjelasan tentang gejala-gejala serta memudahkan perluasan pengetahuan dalam suatu bidang.
2.      Mengemukakan pernyataan tentang hubungan dua konsep yang secara langsung dapat diuji dalam penelitian.
3.      Memberikan arah penelitian.
4.      Memberi kerangka pada penyusunan kesimpulan penelitian.

Hipotesis merupakan prediksi mengenai kemungkinan hasil dari suatu penelitian (Fraenkel Wallen, 1990: 40) dalam Yatim Riyanto, (1996: 13). Lebih lanjut hipotesis merupakan jawaban yang sifatnya sementara terhadap permasalahan yang  diajukan dalam penelitian. Hipotesis belum tentu benar. Benar tidaknya suatu hipotesis tergantung hasil pengujian dari data empiris.
Menurut Suharsimi Arikunto (1995:71) hipotesis didefinisikan sebagai alternative dugaan jawaban yang dibuat oleh penelitian bagi problematika yang diajukan dalam penelitian. Dugaan jawaban tersebut merupakan kebenaran yang sifatnya sementara, yang akan diuji kebenarannya dengan data yang dikumpulkan melalui penelitian. Dengan kedudukan itu maka hipotesis dapat berubah menjadi kebenaran, tetapi juga dapat tumbang sebagai kebenaran.
Penelitian yang dilakukan sebenarnya tidak semata-mata ditujukan untuk menguji hipotesis yang diajukan, tetapi bertujuan menemukan fakta yang ada dan yang terjadi dilapangan. Pernyataan diterima atau ditolaknya hipotesis tidak dapat diidentikkan dengan pernyataan keberhasilan atas kegagalan penelitian. Perumusan hipotesis ditujukan untuk landasan logis dan pemberi arah kepada proses pengumpulan data serta proses penyelidikan itu sendiri (John W.Best, dalam Sanapiah Faisal, 1982 dan Yatim Riyanto, 1996). Ringkasnya yaitu tujuan penelitian mengajukan hipotesis adalah agar dalam kegiatan penelitian tersebut terfokus hanya pada informasi atau data yang diperlukan bagi pengujian hipotesis. Peneliti dituntut agar hati-hati dan cermat dalam penelitiannya[[4]].

C.      Jenis-jenisHipotesis
1.  Hipotesis Dilihat dari Kategori Rumusannya
Menurut Yatim Riyanto (1996: 13) hipotesis dilihat dari kategori rumusannya dibagi menjadi dua, yaitu hipotesis nihil( null hypotheses) disingkat menjadi Ho dan hipotesis alternative (alternative hypotheses) biasanya disebut hipotesis kerja atau disingkat Ha.
·       Hipotesis nihil (Ho) yaitu hipotesis yang menyatakan tidak adanya hubungan atau pengaruh antara variable dengan variable yang lain.
Contoh : tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan prestasi belajar siswa SD.
·       Hipotesis alternative (Ha) yaitu hipotesis yang menyatakan adanya hubungan atau pengaruh antara variable dengan variable lain.Contoh ; ada hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan prestasi belajar siswa SD. Hipotesis alternative ada 2 macam yaitu directional hypotheses dan nondirectional hypotheses (Fraenkel dan Wallen, 1990: 42; Suharsimi Arikunto, 1989 :57).
a)   Hipotesis terarah (directional hypotheses) adalah hipotesis yang diajukan oleh peneliti,dimana peneliti sudah menemukan dengan tegas yang menyatakan bahwa variabel independent memang sudah diprediksi berpengaruh terhadap variabel dependent.
b)   Hipotesis tak terarah (nondirectional hypotheses) adalah hipotesis yang diajukan dan dirumuskan oleh peneliti tampak belum tegas bahwa variabel independent berpengaruh terhadap variabel dependent.

2.   Hipotesis Dilihat dari Sifat Variabel yang Akan Diuji
Menurut Yatim Riyanto (1996: 14) berdasarkan sifat yang akan diuji hipotesis penelitian dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu: hipotesis tentang hubungan dan hipotesis tentang perbedaan.
Hipotesis tentang hubungan yaitu hipotesis yang menyatakan tentang saling hubungan antara dua variabel atau lebih, mengacu pada penelitian korelasional.Hubungan antara variabel tersebut menurut Yatim Riyanto (1996: 14-15) dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:
·  Hubungan yang sifatnya sejajar tidak timbal balik.
·  Hubungan yang sifatnya sejajar tmbal balik
·  Hubungan yang menunjukan pada sebab akibat tetapi tidak timbal balik.
Hipotesis tentang perbedaan yaitu hipotesis yang menyatakan perbedaan dalam variabel tertentu pada kelompok yang berbeda.Hipotesis tentang perbedaan ini mendasari berbagai penelitian komparatif dan eksperimen.

3.   Jenis  Hipotesis yang Dilihat dari Keluasan atau Lingkup Variabel yang Diuji
Hipotesis dapat dibedakan menjadi hipotesis mayor dan hipotesis minor.Hipotesis mayor adalah hipotesis yang mencakup kaitan seluruh variabel dan seluruh subyek penelitian, sedangkan hipotesis minor adalah hipotesis yang terdiri dari bagian-bagian atau sub-sub dari hipotesis mayor (jabaran dari hipotesis mayor).
Contoh hipotesis mayor :
Ada hubungan antara keadaan social ekonomi orang tua dengan prestasi belajar siswa SMA
Contoh hipotesis minor :
1.         Ada hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan prestasi belajar siswa SMA
2.         Ada hubungan antara pendapatan orang tua dengan prestasi belajar siswa SMA
3.         Ada hubungan antara kekayaan orang tua dengan prestasi belajar siswa SMA[[5]].

D.      Karakteristik Hipotesis
Pendapat Yatim Riyanto(1996: 16) nilai atau harga suatu hipotesis tidak dapat diukur sebelum dilakukan pengujian empiris.Namun demikian, bukan berarti dalam merumuskan hipotesis yang akan diuji dapat dilakukan “semau peneliti”,ada beberapa kriteria tertentu yang memberikan ciri hipotesis yang baik.
Ciri hipotesis yang baik menurut Donald Ary, et al (dalam Arief Furchan, 1982: 126-129 dan Yatim Riyanto, 1996:16) antara lain sebagai berikut :
1.    Hipotesis harus mempunyai daya penjelas.
2.    Hipotesis harus menyatakan hubungan yang diharapkan ada diantara variabel-variabel.
3.    Hipotesis harus dapat diuji.
4.    Hipotesis hendaknya konsisten dengan pengetahuan yang sudah ada.
5.    Hipotesis hendaknya sesederhana dan seringkang mungkin.
Sedangkan menurut John W.Best (1997) dalam Yatim Riyanto (1996 :16) ciri-ciri hipotesis yang baik :
Ø  Bisa diterima oleh akal sehat.
Ø  Konsisten dengan teori atau fakta yang telah diketahui.
Ø  Rumusannya dinyatakan sedemikian rupa sehingga dapat diuji.
Ø  Dinyatakan dalam perumusan yang sederhana dan jelas.
Borg dan Gall (1979: 61-62) dalam Yati Riyanto (1996:16) dan Suharsimi Arikunto (1995 :64-65) hipotesis dapat dikatakan baik jika memenuhi 4 kriteria berikut :
1.    Hipotesis hendaknya merupakan rumusan tentang hubungan antara dua atau lebih variabel.
2.    Hipotesis yang dirumuskan hendaknya disertai dengan alasan atau dasar-dasar teoritis dan hasil penemuan terdahulu.
3.    Hipotesis harus dapat diuji.
4.    Rumusan hipotesis hendaknya singkat dan padat.
Yang dapat dijadikan kriteria penyusunan hipotesis adalah hipotesis seharusnya dirumuskan dalam kalimat pernyataan (statement), bukan pertanyaan (question) atau yang lain.

E.       Pengujian Hipotesis
Donald Ary et al (dalam Arief Furchan , 1982 ; 133) dan Yati Riyanto (1996:16-17) untuk menguji hipotesis peneliti perlu :
  1. Menarik kesimpulan tentang konsekuensi yang akan dapat diamati apabila hipotesis tersebut benar
  2. Memilih metode penelitian yang akan memungkinkan pengamatan, eksperimentasi, atau prosedut lain yang diperlukan untuk menunjukan apakah akibat-akibat tersebut terjadi atau tidak
  3. Menerapkan metode ini serta mebgumpulkan data yang dapat dianalisis untuk menunjukan apakah hipotesis tersebut didukung oleh data atau tidak.
Hipotesis tidak harus ada dalam penelitian, yaitu ada peneliti yang tanpa harus mengajukan dan merumuskan hipotesis apabila peneliti tidak atau belum dapat menentukan prediksi jawaban terhadap hasil penelitian.Penelitian yang biasanya tanpa hipotesis diantaranya :
  1. Penelitian deskriptif
  2. Penelitian historis
  3. Penelitian evaluasi.
Beberapa sumber tidak terbuktinya hipotesis menurut S.Margono (1997: 192-193) dapat dicari dari :
  1. Landasan teori yang digunakan untuk menyusun hipotesis sudah kadaluarsa; sudah kurang sahih; atau kurang adekuat.
  2. Sampel penelitian terlalu kecil.
  3. Sampel penelitian tidak diambil secara rambang.
  4. Kurang cermatnya mengeliminasi atau menetralisasi variable-variabel luar atau ekstraneus.
  5. Instrument atau metode pengumpulan data yang tidak sahih dan tidak terandalkan.
  6. Rancangan penelitian yang digunakan tidak tepat.
  7. Perhitungan-perhitungan dalam analisisnya kurang cermat.
  8. Hipotesisnya sendiri yang “palsu”, dan kenyataannya bertentangan dengan hipotesis itu (Sutrisno Hadi, 1981)[[6]].


[1] . DaniVardiansyah, FilsafatIlmuKomunikasi:SuatuPengantar, Indeks, Jakarta 2008. Hal.10
[2] . Sugiyono, Statistika untuk Penelitian, (Penerbit Alfabeta Bandung), 2009.
[3]. DliyaUdinWifqi, HIPOTESIS PENELITIAN,http://azazain.blogspot.co.id/2014/12/hipotesispenelitian-disusun-g-una-m.html , Kamis, 04 Desember 2014.
[4] . Ibid.
[5]. Ibid.
[6] . Ibid.