Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Desember 2020

Kesyirikan Paling Pertama di Dunia

       Dalam hadis yang sangat panjang, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kejadian yang dialami manusia ketika di padang mahsyar. Dalam penggalan cerita itu, manusia berbondong-bondong mendatangi Nuh agar beliau berdoa kepada Allah. Mereka mengatakan,

يَا نُوحُ أَنْتَ أَوَّلُ الرُّسُلِ إِلَى أَهْلِ الأَرْضِ وَقَدْ سَمَّاكَ اللَّهُ عَبْدًا شَكُورًا اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ

     Wahai Nuh, anda rasul pertama di muka bumi. Allah menggelari anda dengan hamba yang pandai bersyukur, berikanlah syafaat untuk kami di hadapan Rabmu…

Namun Nabi Nuh kala itu tidak bersedia, karena alasan tertentu. Kemudian beliau mengarahkan agar mendatangi Nabi Ibrahim. (HR. Ahmad 9873, Bukhari 3340, Muslim 501 dan yang lainnya).

Kedua, mengapa Nuh sebagai rasul pertama?

Jika Nuh rasul pertama, bagaimana dengan Adam?

Adam manusia pertama sekaligus nabi, namun beliau bukan rasul. Beliau menerima wahyu dari Allah, untuk diri beliau dan semua orang yang ada di sekitar beliau. Dan mereka semua dalam kondisi beriman, sekalipun ada diantara mereka yang melakukan dosa.

Sementara diantara ciri rasul, mereka Allah utus untuk menghadapi kaum yang menyimpang dan keluar dari islam karena pelanggaran kesyirikan. Seperti yang dialami kaum nabi Nuh ‘alaihis salam.

Ketiga, antara Adam dan Nuh, belum ada kesyirikan

Jarak antara Nuh dan Adam ada 10 generasi. Sebelum Nabi Nuh diutus, tidak ada satupun manusia yang berbuat syirik dan kufur kepada Allah.

Keterangan ini disampaikan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma,

كان بين نوح وآدم عشرة قرون، كلهم على شريعة من الحق. فاختلفوا، فبعث الله النبيين مبشرين ومنذرين.

Antara Nuh dan Adam ada 10 generasi. Mereka semua berada di atas syariat yang benar. Kemudian mereka saling berselisih. Kemudian Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi gambar gembira dan kabar peringatan. (HR. At-Thabari dalam Tafsirnya no. 4048).

Allah mengutus Nuh ketika ada sebagian manusia yang berbuat kesyirikan, karena itulah, beliau menjadi rosul pertama.

Keempat, berhala di masa Nuh, mewakili orang soleh yang diagungkan kaum mereka

Allah menceritakan upaya pembelaan kaum Nuh terhadap berhala mereka,

قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا . وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا. وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آَلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

       Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, (21) dan melakukan tipu-daya yang amat besar”. (22) Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan)wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.” (QS. Nuh: 21 – 23).

Siapakah berhala-berhala ini?

Ibnu Abbas menjelaskan,

أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِينَ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ ، فَلَمَّا هَلَكُوا أَوْحَى الشَّيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ أَنِ انْصِبُوا إِلَى مَجَالِسِهِمُ الَّتِى كَانُوا يَجْلِسُونَ أَنْصَابًا ، وَسَمُّوهَا بِأَسْمَائِهِمْ فَفَعَلُوا فَلَمْ تُعْبَدْ حَتَّى إِذَا هَلَكَ أُولَئِكَ وَتَنَسَّخَ الْعِلْمُ عُبِدَتْ

      Mereka adalah nama-nama orang soleh di kalangan kaumnya Nuh. Ketika mereka meninggal, setan membisikkan kaumnya untuk membuat prasasti di tempat-tempat peribadatan orang soleh itu. Dan memberi nama prasasti itu sesuai nama orang soleh tersebut. Merekapun melakukannya. Namun prasasti itu tidak disembah. Ketika generasi (pembuat prasasti) ini meninggal, dan pengetahuan tentang prasasti ini mulai kabur, akhirnya prasasti ini disembah. (HR. Bukhari 4920).

Dari pemaparan di atas bisa kita simpulkan,

    -Kesyirikan pertama terjadi di zaman Nabi Nuh ‘alahis shalatu was salam
    -Karena adanya kesyirikan ini, Allah mengutus Nabi Nuh sebagai rasul pertama
    -Sebab terjadi kesyirikan pertama di bumi adalah karena mengagungkan orang soleh yang telah meninggal.

     Ini menunjukkan betapa bahayanya mengkultuskan orang soleh. Berawal dari kultus, kemudian orang menyembah orang soleh itu. Karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang semua sikap ghuluw (berlebih-lebihan). Karena sikap ghuluw, sumber bencana umat manusia dari zaman ke zaman.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِى الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِى الدِّينِ

Hindari sikap ghuluw dalam masalah agama. Karena yang membinasakan umat sebelum kalian adalah ghuluw dalam masalah agama. (HR. Nasai 3070, Ibnu Majah 3144, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Jumat, 22 Desember 2017

Adab Kepada Allah Ta'ala


Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim Al-Atsari

  Sesungguhnya nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hambaNya sangat banyak, tidak terhitung jumlahnya. Kemana saja seorang hamba mengarahkan pandangannya, dia akan melihat nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dihadapannya. Kenikmatan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah diperoleh hamba-Nya semenjak dia berupa setetes air mani yang bercampur dengan sel telur yang bergantung di dalam rahim ibunya. Kemudian selalu mengiringinya sampai ajal menjemputnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ
Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan. [an-Nahl/16:53]
Bahkan jika manusia hendak menghitung nikmat-Nya, maka dia tidak akan mampu menghitungnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [an-Nahl/16:18]

Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki hak yang menjadi kewajiban para hamba-Nya. Hak Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut harus diutamakan daripada hak-hak sesama makhluk. Diantara yang menjadi hak Allah Azza wa Jalla dan menjadi kewajiban para hamba yaitu memiliki adab yang baik kepada Allah Azza wa Jalla . Maka wajib bagi seorang hamba memiliki adab-adab sebagai berikut:

1. Iman Dan Tidak Kufur..
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk beriman kepada-Nya dan kepada perkara-perkara yang wajib diimani. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah , malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. [an-Nisâ’/4:136]
Maka sepantasnya seorang hamba beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, meyakini kebenaran firman-Nya dan tunduk terhadap perintah dan larangan-Nya. Sungguh tidak beradab ketika ada seorang hamba yang ingkar dan menentang-Nya. Allah Azza wa Jalla mencela orang-orang yang ingkar kepada-Nya dengan celaan yang keras, sebagaimana firman-Nya:
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan? [al-Baqarah/2: 28]
Termasuk beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah meyakini keesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya, dan mengimani nama-nama dan sifat-sifat-Nya sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.
Demikian juga termasuk syarat iman adalah menjauhi syirik, karena syirik itu menghapuskan amal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. [az-Zumar/39:65]

2. Syukur Dan Tidak Kufur Nikmat.
Nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hambanya sangat banyak, oleh karena itu kewajiban seorang hamba untuk mensyukurinya adalah dengan mengakui bahwa nikmat itu datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala , memuji-Nya dengan lidah, dan mempergunakan nikmat-nikmat tersebut untuk keridhaan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. [al-Baqarah/2:152]
Sungguh tidak beradab, perbuatan mengingkari kenikmatan dan keutaman dari Rabb pemberi kebaikan.

3. Mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala Dan Tidak Melupakan-Nya.
Manusia hendaklah selalu mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak melupakan-Nya. Karena kewajiban hamba adalah mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kecintaan yang paling tinggi. Seseorang yang mencintai sesuatu, dia akan selalu mengingat dan menyebutnya serta tidak melupakannya. Orang yang melupakan Allah Azza wa Jalla , Allah Subhanahu wa Ta’ala pun akan melupakannya; Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membiarkannya dalam kesusahan. Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. [al-Hasyr/59:19]

4. Taat Dan Tidak Bermaksiat
Yaitu selalu berusaha mentaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, dan mengembalikan segala perkara yang diperselisihkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ ذَلِكَ خَيْرُُ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri (ulama dam umarâ’) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’ân) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [an-Nisâ’ / 4:59]
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hambanya agar mentaati-Nya dan mentaati Rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengulangi kata kerja (yakni: ta’atilah!) sebagai pemberitahuan bahwa mentaati Rasul-Nya wajib secara mutlak, yaitu dengan tanpa meninjau apa yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan terhadap Al-Qur’an. Jika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan, wajib mentaatinya secara mutlak, baik apakah yang beliau perintahkan itu ada dalam Al-Qur’an atau tidak ada di dalamnya. Karena sesungguhnya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi al-Kitâb dan yang semisalnya bersamanya”. [I’lâmul Muwaqqi’în 2/46, penerbit: Dârul Hadîts, Kairo, th: 1422 H /2002 H]

Oleh karena itulah seorang mukmin akan selalu tunduk terhadap keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولَهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةَ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُّبِينًا
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) dari urusan mereka. Barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. [al-Ahzâb / 33: 36]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Ayat ini umum, mencakup semua perkara, yaitu jika Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu, maka tidak ada hak bagi siapapun untuk menyelisihinya, dan di sini tidak ada pilihan bagi siapapun, tidak ada juga pendapat dan perkataan (yang menyelisihi ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya)”. [Tafsîr Ibnu Katsîr, Surat al-Ahzâb /33:36]
Sungguh tidak beradab, jika ada seorang hamba yang lemah berani menentang Penguasanya Yang Maha Perkasa dan Maha Kuasa dengan perbuatan maksiat dan kezhaliman.

5. Tidak Mendahului Allah Subhanahu Wa Ta’ala Dan Rasul-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [al-Hujurât /49:1]
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Maksudnya : ‘Janganlah kamu berkata sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, janganlah kamu memerintah sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah, janganlah kamu berfatwa sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berfatwa, janganlah kamu memutuskan perkara sebelum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memutuskan perkara padanya dan melangsungkan keputusannya.” [I’lâmul Muwaqqi’în, 2/49), penerbit: Dârul Hadîts, Kairo, Th: 1422 H /2002 H]

6. Takut Terhadap Siksa-Nya
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا
Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. [al-Mâidah/5: 44]
Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Takut itu ada beberapa macam: Pertama : Takut karena ibadah, merendahkan diri, pengagungan, dan ketundukan. Inilah yang dinamakan khauf sirr. Ini tidak pantas kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala . Barangsiapa menyekutukan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala (dengan takut ini-pen) dia adalah orang yang melakukan syirik akbar. Contoh : Orang yang takut kepada patung, orang yang telah mati, atau orang-orang yang mereka sangka sebagai wali dan mereka yakini bisa mendatangkan manfaat dan bahaya bagi mereka, sebagaimana dilakukan oleh sebagian penyembah kubur, dia takut kepada penghuni kubur melebihi takutnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala “. [al-Qaulul Mufîd, 2/166; penerbit: Dârul ‘ Âshimah]

7. Malu Kepada-Nya
Seorang muslim akan selalu menyadari bahwa ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala dan pengawasan-Nya itu meliputi segala sesuatu, termasuk semua keadaannya. Oleh karena itu hatinya penuh dengan rasa hormat dan pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala . Dia malu berbuat maksiat dan menyelisihi keridhaan-Nya. Karena bukanlah merupakan adab, ketika seorang hamba menampakkan perbuatan maksiatnya kepada tuannya atau membalas kebaikannya dengan keburukan-keburukan, padahal tuannya selalu mengawasinya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan para sahabatnya agar benar-benar merasa malu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , sebagaimana dalam hadits:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَحْيُوا مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ قَالَ لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَلْتَذْكُرِ الْمَوْتَ وَالْبِلَى وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ
Dari ‘Abdullah bin Mas’ûd, dia berkata: “Rasulullah n bersabda: “Hendaklah kamu benar-benar merasa malu terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala !” Kami menjawab: “Wahai Rasulullah, al-hamdulillah kami malu ( kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala )” Beliau bersabda: “Bukan begitu (sebagaimana yang kamu sangka-pen). Tetapi malu terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya adalah engkau menjaga kepala dan apa yang dikumpulkannya, menjaga perut dan apa yang dikandungnya, serta mengingat kematian dan kebinasaan. Dan barangsiapa menghendaki akhirat, dia akan meninggalkan perhiasan dunia. Barangsiapa telah melakukan ini, maka dia telah malu terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya [HR. Tirmidzi, no. 2458; Ahmad, no. 3662; Syaikh Al-Albâni menyatakan ‘Hasan lighairihi, dalam kitab Shahîh at-Targhîb, 3/6, no. 2638, penerbit. Maktabah al-Ma’ârif]
Disebutkan dalam kitab Tuhfatul Ahwâdzi Syarh Tirmidzi pada penjelasan hadits ini: “Maksudnya adalah menjaga kepala dari penggunaannya untuk selain ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , yaitu engkau tidak sujud kepada selain-Nya, tidak shalat karena riya’, engkau tidak menundukkan kepala untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan engkau tidak mengangkatnya karena sombong. Dan menjaga apa yang dikumpulkan oleh kepala maksudnya adalah menjaga lidah, mata serta telinga dari perkara yang tidak halal.
Menjaga perut maksudnya menjaganya dari makanan yang haram, dan menjaga apa yang berhubungan dengannya maksudnya yaitu kemaluan, kedua kaki, kedua tangan, dan hati. Karena semua anggota badan ini berhubungan dengan rongga perut. Adapun cara menjaganya adalah dengan tidak menggunakannya untuk berbuat maksiat, tetapi digunakan dalam keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Mengingat kematian dan kebinasaan, maksudnya yaitu engkau mengingat keadaanmu dalam kubur yang sudah menjadi tulang dalam kehidupanmu. Dan barangsiapa menghendaki akhirat, dia akan meninggalkan perhiasan dunia. Karena keduanya tidak akan berkumpul dalam bentuk yang sempurna, walaupun bagi orang-orang yang kuat, sebagaimana dikatakan oleh al-Qâri. Adapun al-Munâwi mengatakan: “Karena keduanya seperti dua madu, jika salah satunya dijadikan ridha, yang lain dijadikan marah”

8. Bertaubat Kepada-Nya
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa di antara sifat manusia adalah banyak berbuat dosa dan kesalahan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
Semua anak Adam banyak berbuat kesalahan, dan sebaik-baik orang-orang yang banyak berbuat kesalahan adalah orang-orang yang banyak bertaubat. [HR. Tirmidzi, no. 2499; Ibnu Mâjah; Ahmad; ad-Dârimi. Dihasankan oleh Syaikh al-Albâni]
Oleh karena itu sepantasnya seorang manusia agar selalu memperbanyak taubat dan tidak putus asa dari rahmat dan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mendorong orang-orang musyrik yang bergelimang dengan dosa-dosa untuk bertaubat kepada-Nya dengan firman-Nya:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala . Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [az-Zumar/39:53]

9. Husnuzhan (Berbaik Sangka) Kepada-Nya.
Termasuk adab kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah berbaik sangka kepada-Nya. Karena merupakan adab dan prasangka yang buruk, ketika seseorang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dia menyangka bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengawasinya dan tidak akan membalasnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya:
وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَا أَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُودُكُمْ وَلَٰكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعْمَلُونَ وَذَٰلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu, namun kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka kepada Rabbmu, prasangka itu telah membinasakan kamu, maka kamu menjadi termasuk orang-orang yang merugi. [Fushshilat/41: 22-23]
Demikian juga termasuk buruk sangka, ketika seorang hamba melakukan ketaqwaan dan ketaatan, lalu dia menyangka bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan membalas amal baiknya.
Inilah sedikit tulisan mengenai sebagian adab terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala , semoga Allah Azza wa Jalla selalu membimbing kita dalam kebaikan. Amin.

RUJUKAN:
1. Minhâjul Muslim, Syaikh Abû Bakar Jâbir al-Jazâiri
2. I’lâmul Muwaqqi’ în, penerbit: Dârul Hadîts, Kairo, th: 1422 H / 2002 H
3. Tafsîr Ibnu Katsîr, penerbit: Dârul Jail, Beirut, tanpa tahun.
4. al-Qaulul Mufîd, karya Syaikh al-‘Utsaimin, penerbit: Dârul ‘Ashimah.
5. Shahîh At-Targhîb, karya Syaikh al-Albâni, penerbit Maktabah Al-Ma’ârif.
6. Tuhfatul Ahwâdzi Syarh Tirmidzi, dll.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XIII/1430H/2009M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]. Diambil dari Al-Manhaj Or Id dengan judul asli Adab Kepada Allah Azza Wa Jalla.

Jumat, 15 September 2017

MENEPIS TUDUHAN PEMBENCI DAKWAH SALAFIYAH


Oleh
Syaikh DR. Abu Anas Muhammad Musa Alu Nashr

Kita patut bersyukur kepada Allah lantaran dakwah salafiyah mubarokah yang diemban oleh para ulama dan para da’inya yang mukhlisin merambah penjuru dunia. Namun perlu juga diketahui bahwa dakwah salafiyah, dakwah para nabi ini tidak luput dari para pencela, pembuat keraguan dan kerancuan (syubhat) sepanjang zaman, mulai nabi Nuh hingga nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula para da’i pengemban dakwah ini mendapat perlakuan yang sama. Allahul Musta’an. Berikut syubhat-syubhat yang dilemparkan sekaligus bantahannya yang direkam dan ditulis oleh Syaikh DR Abu Anas Muhammad Musa Alu Nashr, murid Al-Imam Al-Albani Rahimahullah dalam kitab Madza Yanqimuna minas Salafiyah.

1. NAMA SALAFIYAH BENTUK HIZBIYAH DAN BID’AH

   Sementara penentang menuduh bahwa nisbah kepada salafiyah merupakan bentuk hizbiyah bid’ah, sama seperti nama Ikhwan Muslimin, Hizbut Tahrir dan Jama’ah Tabligh. Mereka tidak tahu bahwa intisab kepada salafiyah adalah intisab kepada generasi panutan, para sahabat dan tabi’in, generasi terbaik yang direkomendasikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penyandaran kepada salaf berarti penyandaran kepada umat yang maksum, yang terjaga dari kesalahan dan umat yang diridhai Allah, firmanNya.
“Artinya : Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya”.[Al-Bayyinah : 8]
Sangat berbeda antara orang yang menyandarkan diri kepada seorang mujtahid yang kadang benar kadang salah, fanatik kepadanya, loyal dan benci karenanya dengan seseorang yang menyandarkan diri kepada suatu kaum yang selamat, terjaga dari penyimpangan dan kesesatan ketika muncul perselisihan.
“Artinya : Dan umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan semua masuk neraka kecuali satu. Beliau ditanya : ‘Siapa mereka wahai Rasulullah ?’ Jawaban beliau : ‘Mereka adalah orang-orang yang berada di atas apa yang aku dan sahabatku berada di atasnya”. [Abu Dawud 4586, Tirmidzi 2640, Ibnu Majah 3991 Ahmad 2/332]

Inilah salafiyah yang mana Islam yang murni, bersih dari semua bid’ah dan kesesatan terbangun di atasnya. Inilah Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dijalankan oleh para sahabat dan ditempuh oleh generasi terbaik. Mengapa kalian membolehkan setiap jama’ah Islamiyah untuk menyandarkan diri kepada orang-orang yang tidak maksum tetapi justru melarang penyandaran kepada umat yang terjaga dari kesesatan dan kepada salaf shalih dari kalangan tabi’in dan para imam yang mendapat petunjuk. Mereka terjauhkan dari hizbiyyah sempit lagi berbahaya yang memecah belah umat. Syaikh kami Al-Albani berkata : Terus terang, kami memerangi hizbiyah, karena hizbiyah selaras dengan ayat.
“Artinya : Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”.[Ar-Ruum : 32]
Islam tidak mengenal hizbiyah. Hanya ada satu hizb (golongan) yang ditetapkan oleh Allah yaitu:
“Artinya : Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung”. [Al-Mujadilah : 22]
Hizb Allah adalah golongan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka hendaknya seseorang itu berada dalam manhaj para sahabat. Semua ini harus didasari pengetahuan tentang Al-Qur’an dan Sunnah.
Ketika ditanya tentang hakekat salafiyah, beliau menjawab : “Ketika kita menyebut salaf maka yang kami maksud adalah golongan yang terbaik di muka bumi ini setelah para rasul dan nabi”. Mereka adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, generasi awal. Lalu diikuti para tabi’in yang muncul pada abad kedua, lalu atba’ tabi’in yang muncul pada abad ketiga. Tiga generasi inilah yang disebut salaf. Mereka adalah umat terbaik. Jika mereka merupakan umat terbaik secara mutlak maka tidak ada lagi setelah Rasul manusia yang lebih baik dari mereka seperti yang aku sebutkan. Jika kita menyandarkan diri kepada salaf artinya kita menyandarkan kepada generasi terbaik. Namun perlu dicatat bahwa penyandaran ini bukanlah kepada individu tertentu atau kepada jama’ah yang mungkin saja tersalah atau jatuh dalam kesesatan, baik secara menyeluruh atau sebagian.

Beliau ditanya : Mengapa harus menamakan salafiyah, apakah dia dakwah hizbiyah, kelompok atau madzhab, ataukah kelompok baru dalam Islam ? Beliau menjawab : Sesungguhnya kata salaf itu sudah dikenal dalam bahasa arab dan dalam istilah syar’i. Yang perlu kita bahas adalah pengertian selamat secara syar’i. Telah shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau sakit yang membawa kematian, beliau berkata kepada Fatimah : Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, sebaik-baik salaf bagimu adalah aku’. Ulama sering mempergunakan kata salaf, sehingga tidak bisa lagi dihitung. Cukup satu contoh saja, yaitu kalimat yang dipakai ulama untuk memerangi bid’ah, yakni.
“Artinya : Setiap kebaikan itu dalam pengikutan kepada salaf. Dan setiap kejelekan di dalam perbuatan bid’ah orang-orang khalaf”.
Tetapi ada sementara orang yang mengaku berilmu mengingkari penisbatan ini, dengan sangkaan penisbatan ini tidak ada asalnya. Katanya : Seorang muslim tidak boleh berkata : “Saya Salafi”, sepertinya dia mengatakan : Tidak boleh seorang muslim itu mengatakan : “Saya mengikuti salaf shalih, dalam akidah, ibadah dan akhlak mereka”. Tidak ragu lagi bahwa pengingkaran semisal ini -kalau sengaja- melazimkan dia untuk berlepas diri dari Islam yang benar yang dijalani oleh para salaf shalih, dimana pemimpin mereka adalah Nabi Shallalahu a’laihi wa sallam, seperti diisyaratkan oleh hadits mutawatir dalam shahihain ‘Manusia terbaik adalah zamanku, lalu orang-orang setelah mereka dan setelahnya lagi’.

Maka seorang muslim tidak boleh berlepas diri dari penisbatan kepada salaf shalih, sedang kalau dia berlepas diri dari penisbatan kepada siapapun tidak mungkin bagi seorang ulama pun untuk menisbatkannya kepada kekafiran atau kefasikan.

2. SALAFIYUN HANYA BERKUTAT PADA MASALAH PARSIAL (JUZ), MELALAIKAN MASALAH SECARA KOMPREHENSIF DAN MASALAH MENDASAR.

    Ini juga termasuk kedustaan mereka. Sebab dakwaan salafiyah -itu dengan memuji Allah- mengimani Islam secara menyeluruh. Berangkat dari firman Allah.
“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan”.[Al-Baqarah : 208]
Dan firmanNya yang mencela orang-orang yang mencomot agama sesuai hawa nafsu mereka.
“Artinya : Apakah kamu beriman kepda sebahagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain?”.[Al-Baqarah : 85]
Kewajiban utama dakwah salafiyah adalah dakwah tauhid, peribadatan kepada Allah, membimbing umat di atas manhaj Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengarahkan mereka agar memperhatikan sunnah beliau yang telah dijauhi manusia dan menghidupkannya. Semua itu merupakan bagian dari program dan manhaj dakwah salafiyah bukan bagian dasar-dasar dan rukun-rukun Islam. Orang-orang yang menyelisihi dakwah ini telah keliru dengan mensifati sunnah-sunnah seperti siwak, memanjangkan jenggot, memendekkan celana, sutrah, dan selainnya sebagai masalah kulit (bukan isi).
“Artinya : Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka ; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta”.[Al-Kahfi : 5]
Orang-orang yang bingung itu tidak mengetahui bahwa Islam itu semuanya inti. Kulit itu hanyalah apa-apa yang ada dalam gambaran mereka dan pemikiran mereka dan pemikiran mereka yang busuk. Adapun wahyu, berupa Al-Qur’an dan Sunnah semuanya benar dan inti. Siapapun yang menghina satu saja darinya maka kafir. Siapa yang mensifati apa-apa yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai kulit (masalah sepele) benar-benar berada pada tepi jurang yang dalam.

3. DA’WAH SALAFIYAH MENYEPELEKAN POLITIK BAHKAN TIDAK SAMA SEKALI.

   Ini juga termasuk kedustaan yang sangat jelas dan kedhaliman yang buruk. Salafiyin memandang bahwa politik termasuk agama. Tetapi politik yang mana ? Apakah politik surat kabar, majalah dan agen-agen penyiaran Yahudi dan Salibis ?! Ataukah politik Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya ? Ataukah politik demokrasi, rekayasa orang-orang kafir yakni : Pemerintah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat ?! Ataukah politik ulama Islam yang berkata : “Politik adakah hukum Allah karena Allah, dengan mendasarkan pada kitab Allah dan sunnah RasulNya, berangkat dari dasar-dasar musyawarah yang ditetapkan Islam”.
Apakah politik yang berbentuk penetapan kebenaran dengan system voting dalam parlemen ? Meskipun dalam rangka mendukung kekejian, kemungkaran, kesyirikan, klub malam atau pabrik minum keras ?! Ataukah berupa politik.
“Artinya : Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia”. [Yusuf : 40]
Oleh karena itu salafiyun tidak memakai sarana kebatilan untuk meraih kebenaran. Sebab tujuan itu tidak menghalalkan segala cara. Mereka (salafiyun) tidak berjihad untuk kemenangan orang-orang brengsek, tidak meminta pertolongan kepada orang-orang musyrik, dan selamanya tidak menambah jumlah dengan beraliansi dengan orang-orang munafik. Mereka menolak jumlah banyak namun seperti buih yang tidak mengandung sifat-sifat syar’i.

4. BODOH TERHADAP WAQI’ (REALITA UMAT) DAN TIDAK ACUH DENGAN PERKARA UMAT INI.

   Yang dimaksud fiqhul waqi’ oleh mereka adalah mengetahui rencana-rencana dan program-program (musuh) untuk menghancurkan umat Islam berupa konferensi-konferensi, mencermati kantor berita dunia dan kemampuan untuk mencari solusi dalam bidang politik.
Kita katakan : “Realita umat Islam yang menyakitkan ini tidak samar lagi bagi orang yang mempunyai dua mata, dan tidak ada yang tidak mengetahuinya kecuali orang yang buta hati dan matanya. Karena realita ini merupakan buah pahit dari dampak kemaksiatan dan jauhnya umat dari manhaj Allah. Hal ini telah dijelaskan Allah dalam kitabNya dan melalui lisan rasulNya. Solusi dari realita pahit ini adalah kembali kepada masa lampau yang bercahaya yang tersinari kitab Allah, sunnah (Rasul), ilmu dan amal para salaf dari para sahabat dan tabi’in. Inilah yang senantiasa didengungkan oleh salafiyun pagi dan sore. Oleh karena itu waktu dan pengalaman membuktikan bahwa orang-orang yang memahami kitab dan sunnah di zaman ini semisal Al-Albani rahimahullah, Ibnu Baz rahimahullah, Ibnu Utsaimin rahimahullah dan para murid mereka, merekalah yang benar-benar memahami realita umat.
Walaupun mereka dituduh sebagai ulama pekerja dan ulama haids dan nifas. Sungguh suatu kedhaliman dan kedustaan. (Contohnya) Peringatan syaikh kami Al-Albani rahimahullah kepada para pemuda Aljazair yang bersemangat tinggi (untuk tidak berkecimpung dalam pesta demokrasi) masih terngiang di telinga kami. Beliau telah memperingatkan mereka dari fitnah sebelum meletus. Kamipun telah memperingatkan dalam majalah Al-Ashalah Suara Salafi dan Mimbar As-Salafi yang istimewa terhadap perang di Yaman sebelum meletus empat bulan sebelumnya.
Ulama yang mendalami Al-Kitab dan Sunnah, merekalah orang-orang yang memiliki bashiroh (ilmu mendalam) dan ahli perang. Karena mereka itu memperhatikan dan mencermati (waqi’) berdasarkan cahaya Allah Azza wa Jalla, seperti disebutkan dalam hadits (Qudsi) :
“Artinya : Aku adalah pendengarannya ketika ketika dia mendengar, Aku adalah matanya ketika dia melihat dan Aku adalah tangannya ketika dia menjangkau”.[Hadits Riwayat Bukhari 6137]
Adapun orang-orang yang selalu mengaok (berkoar-koar, peny), bertepuk tangan membela orang-orang rendahan dan berbekal semangat saja, bagaimana mungkin mereka mengetahui realita umat apalagi masa depan mereka. Siapa yang tidak mengetahui masa lalu yang bersinar niscaya tidak akan mengetahui kenyataan dirinya yang tercebur dalam kerusakan, kesesatan dan penyimpangan. Apakah orang yang mendukung Khomeini yang binasa itu dapat mengetahui realita dengan semestinya ? Bisa jadi dia menjadi pendukung nomor wahid dan penyanjungnya bahkan bertasbih dengan memujinya. Ketika dikemukakan pendapat salafiyun tentang jati diri syi’ah dan permusuhan mereka kepada Ahlu Sunnah, mereka menuduh : “Kalian para da’i fitnah, da’i pemecah belah umat, kalian membuat kerusakan!”. Mereka lebih mengutamakan syi’ah ketimbang saudaranya, Ahlu Sunnah, Salafiyuun.
Apakah orang yang beraliansi dengan partai Ba’ts di Irak lalu memerangi partai Ba’ts di Suriah padahal keduanya adalah satu agama yaitu Ba’ts “memahami fiqhul waqi?” Slogan mereka adalah Aku mengakui Ba’ts sebagai rabbku, tiada sekutu baginya dan Eropa adalah ilahku tiada duanya. Mereka semuanya terlahir dari godokan Michael Aflaq, lalu dimana wala’ (loyalitas) dan bara'(lepas diri) ?
“Artinya : Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”.[Al-Hajj : 46]
Apakah orang-orang yang bergabung dalam program mempererat nasionalisme memahami fiqhul waqi’? padahal program itu menyelisihi syari’at dan aqidah, tidak memperdulikannya, bahkan membuang jauh-jauh syari’at, lantas berhukum dengan undang-undang bikinan manusia yang diimpor dari barat dan timur !
Apakah orang yang menghasut para pemuda untuk keluar (dari ketaatan kepada pemerintah ,-pen), takfir (mengkafirkan orang) dan melakukan pengeboman di pemukiman yang jauh dari medan jihad dan kancah peperangan memahami waqi’? Padahal pemukiman itu berada di hotel, tempat umum dan kedutaan-kedutaan tanpa membedakan antara orang kafir yang boleh diperangi dengan yang berada dalam perlindungan, muslim dengan kafir, anak-anak dan wanita, orang tua dan pemuda.
Salafiyun sangat memahami waqi’ berdasarkan firman Allah.
“Artinya : Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”.[Ar-Ra’du : 11]
Dan sabda Rasulullah.
“Artinya : Jika kalian berdagang dengan system ‘ienah, dan kalian ambil ekor-ekor sapi, kalian rela dengan pertanian dan kalian tinggalkan jihad niscaya Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian, tidak akan dihilangkan kehinaan itu sehingga kalian kembali ke agama kalian”.[Hadits Riwayat Abu Dawud 3462]
Saudara kami yang mulia Syaikh Sa’d bin Syayim berkata : “Orang alim adalah orang yang menghabiskan umurnya untuk menorehkan ilmu dan mengabdikan diri untuk ilmu, bersumber dari dua wahyu selaras dengan pemahaman salaf shalih, meresapkan ilmu dengan darah mereka lalu menancapkan di hati. Mereka tidak berbicara kecuali dengan ilmu, hati yang mantap, kokoh pijakan dan dari ujung kaki hingga ujung kepala dipenuhi dengan ilmu. Bukanlah orang yang berteriak dan berkaok lantas menjadi ulama. Bahkan di jaman kita ini terlalu banyak para pengkhotbah dan sedikit ulamanya, seperti dikatakan Ibnu Mas’ud.
Siapa yang menolong orang yang berbuat kebatilan sungguh dia telah berbuat dhalim. Semua itu adakalanya mencela ulama tersebut karena membela sunnah dan memperjuangkannya, atau karena para ulama itu tidak mau mengikuti aturan golongan mereka. Ulama yang tidak mau bergabung dengan mereka dijuluki tidak paham atau tidak peduli terhadap realita. Lalu membuat tuduhan dusta kepada ulama, berupaya menjauhkan manusia dari mereka dan memandang mereka dengan muak dan meremehkan. Demikianlah, jembatan dibentangkan mulai dari sekedar mencela dan mencerca sampai kata beliau (Syaikh Syayim) : “Dan penghinaan kepada ulama tidak terbatas pada diri mereka namun sampai kepada apa yang mereka emban berupa ilmu dan agama. Allah akan membela orang-orang yang beriman dan memperhatikan orang-orang yang shalih. Bahkan mencela ulama itu merupakan pintu menuju kemurtadan”.
“Artinya : Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahNya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”.[An-Nuur : 63]
Demikian nukilan dari syaikh Sa’d bin Syayim. Saya katakan : “Sesungguhnya orang-orang yang terdidik di atas Al-Qur’an, sunnah dan pemahaman generasi terbaik merekalah yang memahami realita umat dan masa depan mereka. Sebab mereka mengerti masa lalu umat yang bersinar. Sedangkan orang-orang yang menggeluti koran, majalah, analisa politikus, pengamat politik dan kantor berita asing dan internet ditambah kebodohan mereka yang sangat kentara terhadap Al-Qur’an, sunnah, ilmu syar’i, pelecehan dan pencelaan kepada ulama rabbani, merekalah sesungguhnya yang paling bodoh terhadap realita umat.
Kami tidak mengecilkan pengetahuan tentang rekayasa musuh-musuh Islam dan waspada terhadap program dan rencana mereka. Tetapi tuduhan kepada ulama rabbani semisal Ibnu Baz rahimahullah, Al-Albani rahimahullah dan Ibnu Utsaimin rahimahullah, bahwa mereka bodoh terhadap realita umat adalah kedhaliman dan kedustaan, dan membuat para pemuda lari dari ulama mereka. Inilah fitnah yang merambah yang membuat kerusakan bagi umat.

5. SALAFIYUN MENCARI MUKA DIHADAPAN PEMERINTAH DAN TIDAK BERBICARA DENGAN KEBENARAN

    Ini juga suatu dusta, tidak ragu lagi. Bagaimana sikap salafiyun ketika menduduki jabatan di kementrian, dewan fatwa dan hakim di negara Islam ? Tiada lain mereka memerangi ahli bid’ah sejak puluhan tahun. Apabila mereka mau main mata, munafik dan menjual ilmu niscaya mereka mendapatkan posisi yang diraih oleh selain mereka. Tetapi salafiyun menghukumi perbuatan tersebut sebagai munafik.
Bahkan mereka tidak membolehkan masuk parlemen agar tidak menjadi jembatan bagi undang-undang bikinan manusia dan hukum thagut dan supaya tidak menjadi perpanjangan kebatilan. Siapa diantara mereka yang menyimpang lalu memuji pemerintah dalam kebatilan atau mengambil muka atau bersikap munafik maka dia tidak mewakili kecuali dirinya sendiri. Salafiyah dan salafiyun berlepas dari perbuatannya, tidak bisa menerima dan tidak meridhainya. Tetapi mereka akan menasehati dan memberi peringatan lantas diisolasi. Allah tidak membebani hamba kecuali dengan apa-apa yang dia sanggupi.
Salafiyun, merekalah yang berbicara blak-blakan dengan didasari hikmah dan nasehat yang baik bukannya dengan mengompori, mempropaganda atau menghasut untuk mengkafirkan, pengeboman dan menentang pemerintah. Ini dia Imam Al-Albani, kami tidak pernah mengetahui beliau sehari saja menemui pemerintah, ditanya, memuji atau mecari muka pemerintah. Yang kami ketahui beliau bersikap seimbang dalam mencintai dan membenci. Inilah manhaj Islam yang benar dan adil tidak ifrath (ekstrim) dan tafrith (melalaikan).
Salafiyah menyeru untuk menasehati pemerintah dan tidak membutuhkan harta, kedudukan dan kemuliaan mereka. Sebagaimana salafiyah tidak menghasut untuk kudeta dan merebut kekuasaan mereka. Tidak boleh keluar dari ketaatan kepada pemerintah kecuali nampak kekufuran nyata, disertai syarat lengkap dan hilangnya penghalang. Inilah yang ditegaskan oleh para ulama rabbani yang mendalam ilmunya, bukannya orang awam dan para pengembala yang kerjanya berteriak dan berkoar-koar.

6. MELALAIKAN JIHAD

   Jihad adalah puncak ajaran Islam, hal ini tidak diperselisihkan. Banyak sekali ayat yang memotivasi untuk berjihad dan hadits-hadits shahih juga masyhur. Tetapi jihad itu memiliki kaidah, syarat dan tatanan. Salafiyun tidak berpegang untuk membela bendera jahiliyah. Karena jihad itu disyariatkan hanya untuk menegakkan syari’at Allah.
“Artinya : Supaya agama itu semata-mata untuk Allah”.[Al-Anfal : 39]
Jihad juga mengharuskan adanya imam (pemimpin), bendera Islam, pendidikan jihad, bekal dan persiapan. Jihad menurut salafiyun adalah jihad berdasarkan ilmu yang mendalam dan tujuan yang jelas. Bilamana bendera, dan tujuan telah jelas mereka tidak akan ketinggalan. Saksinya adalah bumi Palestina, Chechnya, Afghanistan, Balkan dan Kashmir.Mereka berjihad di punggung kuda untuk mencapai kemenangan atau meraih kesyahidan atau kekuasaan bagaimanapun bentuknya. Namun tujuan tidak menghalalkan segala cara. Salafiyun memompakan semangat jihad dilandasi pemahahaman seperti ini dan tidak pernah mengendurkan semangat.

7. TIDAK MEMPUNYAI PROGRAM KE DEPAN YANG JELAS DAN PROGRAM PERBAIKAN SECARA KOMPREHENSIF

   Tuduhan bahwa manhaj salaf tidak memiliki program perbaikan secara komprehensif, ini adalah kedustaan. Sebab manhaj salaf itu mereguk kaidah dan asasnya dari Al-Qur’an, Sunnah dan peninggalan para sahabat, tabi’in. Sedang mereka memahami agama ini dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat untuk diterapkan pada kehidupan nyata dan masyarakat mereka. Kemudian mereka mentrasnfer ilmu ini kepada generasi sesudahnya. Tidak samar lagi bagi orang yang berakal bahwa kemenangan, kebaikan dan kemuliaan, muncul di tengah umat ini (tiga kurun utama) hanyalah karena dilandasi mengikhlaskan agama ini bagi Allah dan hanya mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Merekalah generasi yang terbaik dan utama yang telah dipuji Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan sabdanya : “Sebaik-baik manusia adalah orang-orang dimasaku, orang-orang sesudah mereka dan sesudahnya”. Berawal dari sini terlontarlah ucapan Imam Malik rahimahullah : “Tidak akan sukses umat ini kecuali dengan apa-apa yang telah membuat sukses generasi awal”. Generasi awal itu meraih kesuksesan lantaran mereka hanya mengesakan Allah dan hanya mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah yang selalu didengungkan salafiyun yang kemudian dinamakan Tashfiyah dan Tarbiyah.
Tashfiyah adalah pemurnian secara menyeluruh ajaran Islam dari anasir di luar Islam, baik dalam aqidah, fiqh, tafsir, ilmu dan amalan. Tarbiyah adalah mendidik umat di atas agama yang telah dimurnikan tadi, seperti disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menggambarkan kelompok yang selamat : “Mereka adalah orang-orang yang menempuh manhaj yang aku dan sahabatku menempuhnya”.
Adapun program ke depan, cukuplah bagi kita firman Allah.
“Artinya : Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya ; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi”. [Ar-Ra’du : 17]
“Artinya : Jika kamu menolong (agama) Allah,niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”.[Muhammad : 7]
“Artinya : Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada di sangka-sangkanya”. [At-Thalaq : 2-3]
Sabda RasulNya.
“Artinya :Demi Allah, Dia akan menyempurnakan urusan ini hingga seorang berkendara dari Shan’a menuju Hadramaut, dia tidak takut kecuali hanya kepada Allah dan tidak takut serigala akan menerkam kambingnya, tetapi kalian terburu-buru”. [Hadits Riwayat Bukhari 3416]
Masa depan hanya di tangan Allah dan Dia telah menanggungnya. Balasan itu tergantung amalan. Yang penting kita beramal sesuai perintah Allah dan RasulNya, sedang hasil itu di tanganNya. Ini tidak menghalangi untuk saling membantu dengan didasari Al-Qur’an dan Sunnah. Bukan berdasarkan perkumpulan hizbiyah yang memecah belah umat menjadi kelompok-kelompok. Perkumpulan ini tidak memberi sumbangan kepada umat kecuali kerusakan sepanjang masa.

8. DAKWAH SALAFIYAH, DAKWAH PEMECAH BELAH DAN PEMANTIK FITNAH

   Mereka tidak menuduh demikian melainkan karena dakwah ini memilah antara yang jelek dengan yang baik. Inilah yang dikehendaki Allah dan RasulNya.
“Artinya : Supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dan baik”. [Al-Anfal : 37]
“Artinya : Dan katakanlah ; Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu ; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. [Al-Kahfi : 29]
Ketika da’i salafi memerangi bid’ah, pelakunya dan menyebar aibnya serta merta dituduh dengan tuduhan keji. Sebab termasuk asas pengekor hawa nafsu dan bid’ah adalah menyatukan umat untuk menjaga kesatuannya.Tidak peduli kepada kualitas dan ciri mereka. Tetapi yang diperhatikan hanya sisi kuantitas bagaimanapun rupa mereka. Oleh karena itu kamu melihat, mereka itu bersikap ramah kepada pelaku bid’ah dan penyesat dengan landasan agama. Mereka juga bersikap baik dan menunjukkan loyalitas kepada syi’ah. Anehnya mereka tidak mau berdamai dengan salafiyun dan tidak memberi toleransi. Bahkan mereka sangat memusuhi, membenci dan mencela salafiyun. Tidak sebatas itu mereka juga membesar-besarkan kesalahan salafiyun.

Masih terngiang di telinga kita ucapan salah seorang tokoh ikhwan muslimin di kota Zarqo (Yordania), dimana dia membela Khomeini, revolusinya dan membantah salafiyin yang memperingatkan revolusi Khomeini ini, dia berkata : “Seorang muslim syi’ah yang menegakkan syari’at Allah lebih baik ketimbang sunni salafi yang tidak menegakkan syari’atNya, mereka adalah Talafiyuun (talafiyuun kata plesetan dari salafiyun, maksudnya perusak,-pen), mulailah dia menimbang tuduhan ; salafiyun pembuat fitnah dan pemecah belah umat.
Saya (Abu Anas) katakan : “Ketahuilah bahwa mereka telah jatuh kedalam fitnah”. Tidak tahukah mereka bahwa syi’ah adalah Yahudi umat ini. Mereka adalah makhluk terjelek dari seluruh kelompok, sebab mereka banyak melakukan bid’ah dan kesesatan, merubah kitab Allah, melaknat para sahabat, menuduh Ummul Mukminin Aisyah berzina, padahal Allah telah membersihkannya dari tuduhan itu langsung dari langit”. Maha Suci Allah dari semua ucapan orang-orang dhalim itu dan dari kedustaan mereka.

Allahu A’lam

[Disalin dari Majalah Al-Furqon, Edisi 05 Tahun III. Alih bahasa Abu Nu’aim Al-Atsari. Terjemahan dari kitab Madza Yanqimuna Minas Salafiyah Penerbit Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon, Alamat Maktabah Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik-Jatim]


Sumber: https://almanhaj.or.id/1507-dakwah-salafiyah-menepis-tuduhan.html dengan judul asli DAKWAH SALAFIYAH MENEPIS TUDUHAN.

Selasa, 20 Juni 2017

Sesatkah Aqidah Kita Jika Mengatakan Orang Tua Nabi Wafat dalam Keadaan Kafir?

Oleh Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as Sidawi

Muqaddimah

Termasuk aqidah Ahli Sunnah wal Jama’ah yang jelas adalah tidak boleh memvonis seseorang dengan neraka atau surga kecuali berdasarkan dalil yang konkret dari al-Qur’an dan hadits yang shahih, karena perkara ini termasuk masalah ghaib yang di luar pengetahuan seorang hamba. Namun, apabila sudah ada dalil shahih yang menegaskan status seseorang bahwasanya dia di surga atau neraka maka kewajiban bagi seorang muslim adalah mengimaninya dan menerimanya dengan sepenuh hati.
Nah, di antara status keberadaan yang ditegaskan dalam hadits yang shahih adalah keberadaan orangtua Nabi di neraka. Hanya, masalah ini masih menjadi kebingungan bagi sebagian orang dan ketergelinciran bagi sebagian pena para penulis, apalagi setelah terkumpulnya syubhat-syubhat dalam masalah ini yang digoreskan oleh as-Suyuthi dalam berbagai kitabnya yang banyak sekali seperti Masaliku Hunafa fii Walidai al-Musthafa, ad-Duruj al-Munifah fil Abâi asy-Syarifah, al-Maqamat as-Sundusiyyah fin Nisbah al-Musthafawiyyah, at-Ta’zhim wal Minnah fii Anna Abawai Rasulillah fil Jannah, Nasyru Alamain al-Munifain fii Ihya’ al-Abawain asy-Syarifain. as-Subul al-Jaliyyah fil Abâi al-Aliyyah.
Gayung pun bersambut, syubhat-syubhat tersebut dicuatkan oleh sebagian orang untuk menolak hadits shahih, ditambah dengan alasan cinta kepada Nabi, padahal mereka tahu bahwa surga dan neraka bukanlah diukur dengan nasab dan kehormatan, namun dengan iman dan amal shalih.
Berikut ini kajian singkat tentang hadits pembahasan berikut bantahan terhadap syubhat-syubhat seputar masalah ini. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita semua untuk menjadi pembela-pembela hadits Nabi.

Teks Hadits dan Takhrijnya

Ada dua hadits yang merupakan landasan dasar masalah ini:

Dalil pertama:

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أَبِيْ؟ قَالَ: فِي النَّارِ. فَلَمَّا قَفَّى دَعَاهُ فَقَالَ: إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ
Dari Anas, bahwasanya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, di manakah tempat ayahku (yang telah meninggal) sekarang berada?” Beliau menjawab, “Di neraka.” Ketika orang tersebut menyingkir, maka beliau memanggilnya lalu berkata, “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka.”

a.      Takhrij Hadits
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahîh-nya (203), Abu Awanah dalam Musnad-nya (289), Ahmad dalam Musnad-nya (3/268), Abu Dawud dalam Sunan-nya (4718), Ibnu Hibban dalam Shahîh-nya (578), Abu Ya’la dalam Musnad-nya (3516), al-Baihaqi dalam Sunan Kubra (7/190 no. 13856) dan Dalâil Nubuwwah (1/191), al-Jauraqani dalam al-Abâthil wal Manâkir wash Shihah wal Masyâhir (1/132–233), dan Ibnu Mandah dalam kitab al-Îmân (926).
Seluruhya lewat dari dua jalur:
ñ    Jalur pertama: Affan bin Muslim – Hammad bin Salamah – Tsabit al-Bunani – Anas bin Malik.
ñ    Jalur kedua: Musa bin Isma’il – Hammad bin Salamah – Tsabit al-Bunani – Anas bin Malik.

b.      Hukum Hadits
Tidak ragu lagi bahwa hadits ini adalah shahih. Cukuplah sebagai hujjah akan keshahihannya bahwa Imam Muslim memasukkan hadits ini dalam kitab Shahîh-nya yang masyhur itu. Syaikh al-Albani berkata dalam Muqaddimah Bidâyatus Sûl (hlm. 16–17), “Hadits riwayat Muslim dan selainnya. Hadits ini shahih meskipun as-Suyuthi memaksakan diri untuk melemahkan hadits ini dalam beberapa kitabnya.”

Dalil Kedua:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ a قَالَ: زَارَ النَّبِيُّ n قَبْرَ أُمِّهِ فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ فَقَالَ: اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِيْ أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِيْ وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِيْ أَنْ أَزُوْرَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِيْ فَزُوْرُوْا الْقُبُوْرَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ
Dari Abu Hurairah berkata, “Nabi pernah menziarahi kubur ibunya, lalu beliau menangis dan membuat orang yang berada di sampingnya juga turut menangis kemudian beliau bersabda, ‘Saya tadi meminta izin kepada Rabbku untuk memohon ampun baginya (ibunya) tetapi saya tidak diberi izin, dan saya meminta izin kepada-Nya untuk menziarahi kuburnya (ibunya) kemudian Allah memberiku izin. Berziarahlah karena (ziarah kubur) dapat mengingatkan kematian.’”

a.      Takhrij Hadits
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahîh-nya (976–977), Abu Dawud (3235), Nasai (4/90), Ibnu Majah (1572), Ahmad dalam Musnad-nya (2/441), ath-Thahawi dalam Musykil Atsar (3/89), al-Baihaqi dalam Sunan Kubra (4/76), (7/190) dan Dalâil Nubuawwah (1/190), al-Baghawi dalam Syarh Sunnah (5/463 no. 1554) dan Ma’alim Tanzil (3/115), Abu Ya’la dalam Musnad-nya (6193), al-Jauraqani dalam Abâthil wal Manâkir (1/230) dan al-Hakim dalam al-Mustadrak (1429).
Seluruhnya dari tiga jalur:
  1. Jalur pertama: Marwan bin Mu’awiyah – Yazid bin Kaisan – Abu Hazim – Abu Hurairah.
  2. Jalur kedua: Muhammad bin Ubaid – Yazid bin Kaisan – Abu Hazim – Abu Hurairah.
  3. Jalur ketiga: Ya’la bin Ubaid – Yazid bin Kaisan – Abu Hazim – Abu Hurairah (Riwayat al-Hakim saja)
b.      Hukum Hadits
Tidaklah diragukan bahwa hadits ini adalah shahih. Cukuplah sebagai hujjah bahwa Imam Muslim memasukkan hadits ini dalam kitab Shahîh-nya. Imam Baghawi berkata, “Hadits ini shahih.” Al-Hakim berkata, “Hadits shahih menurut syarat Muslim tetapi keduanya (Bukhari-Muslim) tidak mengeluarkannya.” Dan disetujui Imam Dzahabi!!
Kami berkata: Imam Hakim benar dalam menghukumi hadits ini shahih menurut syarat Muslim, tetapi beliau salah ketika mengatakan bahwa Imam Muslim tidak mengeluarkannya, karena hadits ini diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahîh-nya—sebagaimana Anda lihat di atas.

Bersama al-Hafizh as-Suyuthi

Al-Hafizh as-Suyuthi melemahkan hadits pertama dalam kitabnya Masaliku Hunafa fi Walidai Musthafa 2/432–435 dengan alasan bahwa Hammad bin Salamah telah diselisihi oleh Ma’mar bin Rasyid, di mana beliau tidak menyebutkan lafazh ini, tetapi dengan lafazh “Apabila engkau melewati kuburan seorang kafir maka beritakanlah dia dengan neraka”. Hadits dengan lafazh ini lebih kuat, karena Ma’mar lebih kuat hafalannya daripada Hammad, sebab Hammad ada pembicaraan dalam hafalannya, berbeda halnya dengan Ma’mar.

Jawaban: Alasan ini adalah alasan yang sangat lemah sekali, sebab sebagaimana tidak samar lagi bagi para ahli hadits—termasuk as-Suyuthi sendiri—bahwa perawi yang paling kuat riwayatnya dari Tsabit al-Bunani adalah Hammad bin Salamah, sehingga apabila bertentangan dengan rawi lainnya maka yang dimenangkan adalah Hammad bin Salamah.
  1. Abu Hatim ar-Razi berkata—sebagaimana dalam al-’Ilal (2185), ”Hammad bin Salamah adalah orang yang paling terpercaya apabila meriwayatkan dari Tsabit dan Ali bin Zaid.”
  2. Ahmad bin Hambal berkata, “Hammad bin Salamah lebih kuat daripada Ma’mar jika dia meriwayatkan dari Tsabit.”
  3. Yahya bin Ma’in berkata, “Barang siapa menyelisihi Hammad bin Salamah maka yang dimenangkan adalah Hammad.” Dikatakan kepada beliau, “Bagaimana dengan Sulaiman bin Mughirah dari Tsabit?” Beliau berkata, “Sulaiman bin Mughirah memang terpercaya, tetapi Hammad adalah orang yang paling tahu tentang Tsabit.”
  4.  Al-’Uqaili berkata dalam adh-Dhu’afa’ (2/291), “Manusia yang paling terpercaya tentang Tsabit adalah Hammad bin Salamah.”
Imam Muslim dalam Shahîh-nya seringkali meriwayatkan riwayat dari jalur Hammad bin Salamah dari Tsabit. Berbeda halnya dengan Ma’mar bin Rasyid, sekalipun beliau terpercaya, para ahli hadits melemahkan riwayatnya dari Tsabit. Ibnu Ma’in berkata, “Ma’mar dari Tsabit lemah riwayatnya.” Al-’Uqaili berkata, “Riwayat yang paling mungkar dari Tsabit adalah riwayat Ma’mar bin Rasyid.”
Setelah penjelasan ini, lantas apa artinya perbandingan yang dilakukan oleh al-Hafizh as-Suyuthi antara dua orang tersebut?! Jadi, pendapat yang benar adalah riwayat Hammad bin Salamah, sedangkan riwayat Ma’mar bin Rasyid adalah mungkar.[1]
Adapun hadits kedua, as-Suyuthi tidak memberikan banyak alasan untuk melemahkannya kecuali ucapan yang global saja!!

Fiqih Hadits

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani berkata mengomentari hadits ini:
“Ketahuilah wahai saudaraku seislam bahwa sebagian manusia sekarang dan sebelumnya juga, mereka tidak siap menerima hadits shahih ini dan tidak mengimani kandungannya yang menegaskan kufurnya kedua orangtua Nabi. Bahkan sebagian kalangan yang dianggap sebagai tokoh Islam mengingkari hadits ini berikut kandungannya yang sangat jelas.
Menurut saya, pengingkaran seperti ini pada hakikatnya juga tertuju kepada Rasulullah yang telah mengabarkan demikian, atau minimal kepada para imam yang meriwayatkan hadits tersebut dan menshahihkannya. Dan ini merupakan pintu kefasikan dan kekufuran yang nyata karena berkonsekuensi meragukan kaum muslimin terhadap agama mereka, sebab tidak ada jalan untuk mengenal dan memahami agama ini kecuali dari jalur Nabi sebagaimana tidak samar bagi setiap muslim.
Jika mereka sudah tidak mempercayainya hanya karena tidak sesuai dengan perasaan dan hawa nafsu mereka maka ini merupakan pintu yang lebar untuk menolak hadits-hadits shahih dari Nabi. Sebagaimana hal ini terbukti nyata pada kebanyakan penulis yang buku-buku mereka tersebar di tengah kaum muslimin seperti al-Ghazali, al-Huwaidi, Bulaiq, Ibnu Abdil Mannan, dan sejenisnya yang tidak memiliki pedoman dalam menshahihkan dan melemahkan hadits kecuali hawa nafsu mereka semata.
Dan ketahuilah wahai saudaraku muslim yang sayang terhadap agamanya bahwa hadits-hadits ini yang mengabarkan tentang keimanan dan kekufuran seseorang adalah termasuk perkara ghoib yang wajib untuk diimani dan diterima dengan bulat. Allah berfirman:
الٓمٓ ﴿١﴾ ذَ‌ٰلِكَ ٱلْكِتَـٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًۭى لِّلْمُتَّقِينَ ﴿٢﴾ ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَـٰهُمْ يُنفِقُونَ ﴿٣﴾
Alif lâm mîm. Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. (QS. al-Baqarah [2]: 1–3)
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍۢ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَـٰلًۭا مُّبِينًۭا ﴿٣٦﴾
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. al-Ahzâb [33]: 36)
Maka berpaling darinya dan tidak mengimaninya berkonsekuensi dua hal yang sama-sama pahit rasanya. Pertama: Mendustakan Nabi. Kedua: Mendustakan para perawi hadits yang terpercaya.
Dan tatkala menulis ini, saya tahu betul bahwa sebagian orang yang mengingkari hadits ini atau memalingkan maknanya dengan maka yang batil seperti as-Suyuthi—semoga Allah mengampuninya—adalah karena terbawa oleh sikap berlebih-lebihan dalam mengagungkan dan mencintai Nabi, sehingga mereka tidak terima bila kedua orangtua Nabi seperti yang dikabarkan oleh Nabi, seakan-akan mereka lebih sayang kepada orangtua Nabi daripada Nabi sendiri!!!”[2]
Sebenarnya ucapan para ulama salaf tentang aqidah ini banyak sekali. Namun, cukuplah kami nukil di sini ucapan al-Allamah Ali bin Sulthan Ali al-Qari, “Telah bersepakat para ulama salaf dan khalaf dari kalangan sahabat, tabi’in, imam empat, dan seluruh ahli ijtihaj akan hal itu (kedua orangtua Nabi di neraka) tanpa ada perselisihan orang setelah mereka. Adapun perselisihan orang setelah mereka tidaklah mengubah kesepakatan ulama salaf.”[3]

Syubhat dan Jawabannya

Di antara syubhat melemahkan hadits shahih, di sana ada beberapa syubhat lainnya yang perlu kita kupas sekalipun secara singkat:

Syubhat pertama: Kedua orangtua Nabi hidup di masa fathrah

Mereka berdalil dengan firman Allah:
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًۭا ﴿١٥﴾
Dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (QS. al-Isrâ’ [17]: 15)
Syaikh Abu Zahrah (al-Azhar, Mesir) berkata, “Ayah dan ibu Nabi hidup pada masa fathrah (kekosongan Nabi), maka bagaimana mungkin keduanya akan diadzab? … Terus terang, saya (Abu Zahrah) tak dapat menahan telinga dan pikiranku tatkala saya membayangkan bahwa Abdullah dan Aminah berada di neraka!”
Jawaban: Syaikh al-Albani menjawab syubhat ini, “Ketahuilah bahwa hadits ini walaupun sudah jelas keshahihan sanadnya, banyaknya syawahid (penguat)nya serta kesepakatan para ulama pakar menerimanya, namun Syaikh Abu Zahrah menolaknya mentah-mentah dengan penuh kelancangan dan kejahilan yang mendalam tatkala dia berkata … (kemudian beliau menyebutkan perkataan Abu Zahrah di atas). Saya (al-Albani, Red.) katakan: Subhanallah! seperti inikah sikap hamba yang beriman kepada Rasulullah kemudian kepada para ulama mukhlishin (ikhlas) yang telah meriwayatkan hadits-hadits Nabi sekaligus menyaringnya antara shahih dan dha’if serta bersepakat tentang keshahihan hadits ini?! Bukankah sikap Abu Zahrah ini adalah manhaj (metode) para pengekor hawa nafsu seperti Mu’tazilah dkk. yang menimbang suatu kebaikan dan kejelekan berdasarkan akal? Lucunya, Syaikh Abu Zahrah mengaku bahwa dirinya termasuk Ahli Sunnah, lantas mengapa dia menyelisihi mereka (Ahli Sunnah) dan meniti jalan Mu’tazilah, pendewa akal dan pengingkar hadits-hadits shahih berdasarkan hawa nafsu belaka …”[4]

Syubhat kedua: Hadits-hadits tentang hidupnya kedua orangtua Nabi  setelah mati lalu beriman.

Mereka berdalil dengan hadits-hadits yang menyatakan bahwa kedua orangtua Nabi hidup kembali dan beriman kepada Nabi. Bahkan sebagian mereka mengatakan bahwa hadits-hadits tentangnya telah mencapai derajat mutawatir.
Jawaban: Hadits-hadits tentang imannya kedua orangtua Nabi seluruhnya maudhu’ dan mungkar sebagaimana ditegaskan oleh pakar (ahli) hadits.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Hadits itu tidak shahih menurut ahli hadits, bahkan mereka bersepakat bahwa hadits itu adalah dusta dan diada-adakan sekalipun diriwayatkan dengan sanad para perawi yang majahil (tidak dikenal). Sebenarnya tidak ada pertentangan di kalangan Ahlus Sunnah bahwa hadits itu palsu yang sangat nyata kedustaannya sebagaimana ditegaskan oleh ahli ilmu. Seandainya kejadian seperti ini benar-benar terjadi, niscaya akan banyak dinukil karena masalah seperti ini sangat luar biasa ditinjau dari dua segi:
  1. segi menghidupkan orang yang telah mati
  2. segi keimanan setelah mati
Hadits ini di samping palsu, juga bertentangan dengan al-Qur’an, hadits shahih, dan ijma’.”[5]

Syubhat ketiga: Celaan Kepada Nabi?

Mereka mengatakan bahwa keyakinan/aqidah bahwa kedua orangtua Nabi di neraka termasuk kurang adab terhadap Rasulullah.
Jawaban: Beradab terhadap Rasulullah yang sebenarnya adalah mengikuti perintahnya dan membenarkan haditsnya, sedang kurang adab terhadap Rasulullah adalah apabila menyelisihi petunjuknya dan menentang haditsnya. Allah berfirman:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُقَدِّمُوا۟ بَيْنَ يَدَىِ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌۭ ﴿١﴾
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Hujurât: 1)
Alangkah bagusnya perkataan Syaikh Abdurrahman al-Yamani tatkala mengomentari hadits ini, “Seringkali kecintaan seseorang tak dapat dikendalikan sehingga dia menerjang hujjah serta memeranginya. Padahal orang yang diberi taufik mengetahui bahwa hal itu berlawanan dengan mahabbah (cinta) yang disyari’atkan. Wallahul Musta’an.”
Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini berkata, “Termasuk kegilaan, bila orang yang berpegang teguh dengan hadits-hadits shahih disifati dengan kurang adab. Demi Allah, seandainya hadits tentang islamnya kedua orangtua Nabi shahih, maka kami adalah orang yang paling berbahagia dengannya. Bagaimana tidak, sedangkan mereka adalah orang yang paling dekat dengan Nabi yang lebih saya cintai daripada diriku ini. Allah menjadi saksi atas apa yang saya ucapkan. Tetapi kita tidaklah membangun suatu ucapan yang tidak ada dalilnya yang shahih. Sayangnya, banyak manusia yang melangkahi dalil shahih dan menerjang hujjah. Wallahul Musta’an.”[6]
Demikianlah pembahasan ini secara singkat. Barang siapa yang ingin memperluas pembahasan ini maka kami persilakan untuk membaca kitab Adillah Mu’taqad Abi Hanifah fi Abawai Rasul karya Syaikh Mula al-Qari, tahqiq Syaikh Masyhur bin Hasan Salman dan Naqdhu Masalik as-Suyuthi fi Walidai al-Musthafa oleh Dr. Ahmad bin Shalih az-Zahrani.


[1]   Dinukil dari jawaban Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini dalam Majalah at-Tauhid, edisi 3/Th. 9. Dan lihat bantahannya lebih lengkap dalam tulisan beliau tersebut.
[2]   Silsilah al-Ahâdits ash-Shahîhah no. 2592
[3]   Adillah Mu’taqad Abi Hanifah fi Abawai Rasul hlm. 84
[4]   Shahîh Sîrah Nabawiyyah hlm. 24–27
[5]   Majmû’ Fatâwâ 4/324
[6]   Lihat Majalah at-Tauhîd, Mesir, edisi 3/Rabi’ul Awal 1421 hlm. 37

Selasa, 08 November 2016

Antara Khilafah dan Kerajaan, kemanakah orientasi utama dakwah kaum muslimin?




Tanya : Saya baca dalam sebuah bulletin beberapa minggu lalu bahwasannya Khilafah Islam telah runtuh tanggal 3 Maret 1924. Maka konsekuensinya, seluruh dakwah Islam yang ada sekarang harus mempunyai orientasi/tujuan utama untuk mengembalikan kekhilafahan yang telah hilang. Bagaimana pendapat Saudara mengenai hal ini ?
Jawab :
  1. Ada hal yang perlu dikoreksi tentang pertanyaan Saudara. Khilafah Islamiyyah tidaklah runtuh pada tanggal 3 Maret 1924. Betul bahwasannya segolongan orang memakai dan mempopulerkan istilah ini. Namun sebaik-baik istilah dan pemahaman adalah yang berasal dari Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahiihah. Akan kami bawakan beberapa riwayat yang terkait. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
    الخلافة في أمتي ثلاثون سنة ثم ملك بعد ذلك
    ”Kekhilafahan umatku selama 30 tahun, kemudian setelah itu adalah masa kerajaan” [HR. Abu Dawud no. 4646,4647; At-Tirmidzi no. 2226, Ath-Thayalisi no. 1107; dan yang lainnya; shahih].
    Menurut ahli tarikh, masa 30 tahun setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ini masuk dalam kepemimpinan Al-Hasan bin ‘Ali sebelum beliau menyerahkannya kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan pada Tahun Jama’ah (disebut tahun jama’ah karena pada tahun tersebut kaum muslimin antara pihak ‘Ali bin Abi Thalib/Al-Hasan bin ‘Ali dan Mu’awiyyah bin Abi Sufyan mengakhiri perselisihan) [’Aunul-Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud 2/397-399]. Dalam riwayat Ath-Thayalisi terdapat tambahan lafadh :
    قلت فمعاوية قال كان أول الملوك
    ”Aku (yaitu rawi : Sa’id bin Jumhaan) bertanya : ’Bagaimana dengan Mu’awiyyah ?’. Maka Safiinah menjawab : ‘Ia adalah raja pertama dari raja-raja (dalam sejarah Islam)”.
    Mengenai kalimat { ثم ملك بعد ذلك} ”kemudian setelah itu adalah masa kerajaan” ; maka berkata Al-Munawi : ”yaitu setelah berakhirnya masa kekhilafahan nubuwwah, maka akan muncul kerajaan”. Dan bahkan secara tegas Ath-Thibi yang disitir oleh Al-’Adhim ’Abadiy dalam ’Aunul-Ma’bud (2/388) mengatakan bahwa masa setelah ’Ali radliyallaahu ’anhu adalah masa ’mulkan ’adluudlan’ (مُلْكاً عَضُوضاً = Kerajaan yang dhalim). Hal ini sangat sesuai dengan sabda beliau shallallaahu ’alaihi wasallam yang lain :
    تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها ثم تكون خلافة على منهاج النبوة , فتكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها , ثم تكون ملكا عاضا فيكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء الله أن يرفعها , ثم تكون ملكا جبريا فتكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها , ثم تكون خلافة على منهاج النبوة . ثم سكت
    Akan ada masa kenabian pada kalian selama yang Allah kehendaki, Allah mengangkat/menghilangkannya kalau Allah kehendaki. Lalu akan ada masa khilafah di atas manhaj Nubuwwah selama yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkatnya jika Allah menghendaki. Lalu ada masa kerajaan yang sangat kuat (ada kedhaliman) selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya bila Allah menghendaki. Lalu akan ada masa kerajaan (tirani) selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya bila Allah menghendaki. Lalu akan ada lagi masa kekhilafahan di atas manhaj Nubuwwah”. Kemudian beliau diam” [HR. Ahmad 4/273, Ath-Thayalisi no. 438, dan Al-Bazzar no. 2796; dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 5].
    Akhir kalimat yang ingin disampaikan pada point ini adalah bahwa yang runtuh pada tanggal 3 Maret 1924 adalah Daulah ’Utsmaniyyah yang notabene bukan merupakan bentuk Khilafah Islamiyyah, tapi bentuk kerajaan (mulk).[1]
  1. Tentang orientasi/tujuan utama dakwah yang harus dilakukan, maka tentu kitapun harus mencontoh dakwah para Nabi dan Rasul sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dakwah para Nabi dan Rasul adalah dakwah yang terbaik yang merupakan implementasi dari kehendak syar’iyyah Allah ta’ala. Dakwah mereka adalah sama. Mereka memulai dan memprioritaskan dengan sesuatu yang paling utama (paling penting). Prioritas tersebut adalah mengajak umat untuk mentauhidkan Allah ta’ala dan tidak mensyirikkan-Nya dengan sesuatu apapun selain-Nya
    Mari kita simak orientasi dakwah yang dilakukan oleh Nabi Nuh ’alaihis-salaam :
    إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ أَنْ أَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ * قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ * أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ * يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ أَجَلَ اللَّهِ إِذَا جَاءَ لا يُؤَخَّرُ لَوْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ * قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلا وَنَهَارًا * فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلا فِرَارًا * وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا * ثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا * ثُمَّ إِنِّي أَعْلَنْتُ لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا * فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا * مَا لَكُمْ لا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا * وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا * أَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللَّهُ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا * وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا * وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الأرْضِ نَبَاتًا * ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا * وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ بِسَاطًا * لِتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلا فِجَاجًا * قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلا خَسَارًا * وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا * وَقَالُوا لا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلا سُوَاعًا وَلا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا * وَقَدْ أَضَلُّوا كَثِيرًا وَلا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلا ضَلالا * مِمَّا خَطِيئَاتِهِمْ أُغْرِقُوا فَأُدْخِلُوا نَارًا فَلَمْ يَجِدُوا لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْصَارًا
    Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): "Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih". Nuh berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui". Nuh berkata: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam, maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita? Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu". Nuh berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakai-ku, dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, dan melakukan tipu-daya yang amat besar". Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa', yaghuts, ya'uq dan nasr". Dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang lalim itu selain kesesatan. Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah [QS. Nuh : 1-25]. 
    Dan inilah orientasi dakwah Nabi Ibrahim ’alaihis-salaam :
    وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ * إِذْ قَالَ لأبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ * قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ * قَالَ لَقَدْ كُنْتُمْ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ * قَالُوا أَجِئْتَنَا بِالْحَقِّ أَمْ أَنْتَ مِنَ اللاعِبِينَ * قَالَ بَل رَبُّكُمْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا عَلَى ذَلِكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ * وَتَاللَّهِ لأكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ * فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ * قَالُوا مَنْ فَعَلَ هَذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ * قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ * قَالُوا فَأْتُوا بِهِ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ * قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ * قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ * فَرَجَعُوا إِلَى أَنْفُسِهِمْ فَقَالُوا إِنَّكُمْ أَنْتُمُ الظَّالِمُونَ * ثُمَّ نُكِسُوا عَلَى رُءُوسِهِمْ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَؤُلاءِ يَنْطِقُونَ * قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلا يَضُرُّكُمْ * أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَفَلا تَعْقِلُونَ * قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ * قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ * وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الأخْسَرِينَ
    Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan) nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?". Mereka menjawab: "Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata". Mereka menjawab: "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?" Ibrahim berkata: "Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu". Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang lalim". Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim". Mereka berkata: "(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan". Mereka bertanya: "Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?". Ibrahim menjawab: "Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara". Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata: "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)", kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara". Ibrahim berkata: "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kamu?" Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?. Mereka berkata: "Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak". Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim". mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi. [QS. Al-Anbiyaa’ : 51-70]. 
    Dan inilah prioritas dakwah Nabi Musa ’alaihis-salaam yang ia lakukan kepada Fir’aun, sang raja negara adidaya sekaligus poros kejahatan dan kedhaliman di masanya :
    فَأْتِيَا فِرْعَوْنَ فَقُولا إِنَّا رَسُولُ رَبِّ الْعَالَمِينَ * أَنْ أَرْسِلْ مَعَنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ * قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ * وَفَعَلْتَ فَعْلَتَكَ الَّتِي فَعَلْتَ وَأَنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ * قَالَ فَعَلْتُهَا إِذًا وَأَنَا مِنَ الضَّالِّينَ * فَفَرَرْتُ مِنْكُمْ لَمَّا خِفْتُكُمْ فَوَهَبَ لِي رَبِّي حُكْمًا وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُرْسَلِينَ * وَتِلْكَ نِعْمَةٌ تَمُنُّهَا عَلَيَّ أَنْ عَبَّدْتَ بَنِي إِسْرَائِيلَ * قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ * قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ مُوقِنِينَ * قَالَ لِمَنْ حَوْلَهُ أَلا تَسْتَمِعُونَ * قَالَ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الأوَّلِينَ * قَالَ إِنَّ رَسُولَكُمُ الَّذِي أُرْسِلَ إِلَيْكُمْ لَمَجْنُونٌ * قَالَ رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ * قَالَ لَئِنِ اتَّخَذْتَ إِلَهًا غَيْرِي لأجْعَلَنَّكَ مِنَ الْمَسْجُونِينَ
    Maka datanglah kamu berdua kepada Firaun dan katakanlah olehmu: "Sesungguhnya kami adalah Rasul Tuhan semesta alam, lepaskanlah Bani Israel (pergi) beserta kami". Firaun menjawab: "Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna". Berkata Musa: "Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf. Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul. Budi yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah (disebabkan) kamu telah memperbudak Bani Israel". Firaun bertanya: "Siapa Tuhan semesta alam itu?". Musa menjawab: "Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya. (Itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya". Berkata Firaun kepada orang-orang sekelilingnya: "Apakah kamu tidak mendengarkan?". Musa berkata (pula): "Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu". Firaun berkata: "Sesungguhnya Rasulmu yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila". Musa berkata: "Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal". Firaun berkata: "Sungguh jika kamu menyembah Tuhan selain aku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan" [QS. Asy-Syu’araa’ : 16-29]. 
    Dan inilah orientasi dakwah yang dilakukan Nabi kita Muhammad shallallaahu ’alaihi wasallam :
    قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ * وَأُمِرْتُ لأنْ أَكُونَ أَوَّلَ الْمُسْلِمِينَ * قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ * قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي
    Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri". Katakanlah: "Sesungguhnya aku takut akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku". Katakanlah: "Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku" [QS. Az-Zumar : 11-14].
    قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
    Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang umi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk" [QS. Al-A’raf : 158]. 
    Inilah dakwah para Nabi dan Rasul, dan ini pulalah misi utama diutusnya mereka semua kepada umat manusia. Allah berfirman :
    وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
    “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul-pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya : Bahwasannya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku” [QS. Al-Anbiyaa’ : 25].
    وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ فَسِيرُواْ فِي الأَرْضِ فَانظُرُواْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
    Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul untuk tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut itu”. Maka diantara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula diantaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)” [QS. An-Nahl : 36].
    Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam terus menegakkan panji-panji ketauhidan, baik pada periode Makkah maupun Madinah, hingga beliau diwafatkan Allah ta’ala pada tahun 13 H. Contoh-contoh kongkrit pelaksanaan dakwah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dapat kita temukan dalam banyak hadits. Diantaranya adalah perkataan beliau ketika mengutus Mu’adz bin Jabal radliyallaahu 'anhu untuk berdakwah kepada penduduk negeri Yaman :
    إنك تقدم على قوم من أهل الكتاب فليكن أول ما تدعوهم إلى أن يوحدوا الله تعالى فإذا عرفوا ذلك فأخبرهم أن الله فرض عليهم خمس صلوات في يومهم وليلتهم فإذا صلوا فأخبرهم أن الله افترض عليهم زكاة في أموالهم تؤخذ من غنيهم فترد على فقيرهم فإذا أقروا بذلك فخذ منهم وتوق كرائم أموال الناس
    "Sesungguhnya kamu mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab. Maka jadikanlah awal dari seruanmu kepada mereka adalah untuk mentauhidkan Allah ta’ala. Apabila mereka telah mengetahuinya, maka khabarkanlah kepada bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka shalat lima waktu sehari semalam. Apabila mereka telah mengerjakannya, maka khabarkanlah kepada mereka bahwasannya Allah telah mewajibkan atas mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dikembalikan kepada orang-orang faqir di antara mereka. Apabila mereka telah mengikrarkannya (untuk mentaatinya), maka jagalah dirimu dari kemuliaan harta-harta mereka.” [HR. Al-Bukhari no. 7372]. 
    Juga saat beliau shallallaahu ’alaihi wasallam mengambil baiat manusia, maka yang pertama kali beliau minta adalah ketaatan mereka untuk mentauhidkan Allah ta’ala (tanpa mensyirikkan-Nya dengan sesuatupun juga).
    عن عبادة بن الصامت قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم في مجلس، فقال: بايعوني على أن لا تشركوا بالله شيئا ولا تسرقوا ولا تزنوا ولا تقتلوا أولادكم ولا تأتوا ببهتان تفترونه بين أيديكم وأرجلكم ولا تعصوا في معروف فمن وفي منكم فأجره على الله ومن أصاب من ذلك شيئا فعوقب في الدنيا فهو كفارة له ومن أصاب من ذلك شيئا ثم ستره الله فهو إلى الله إن شاء عفا عنه وإن شاء عاقبه فبايعناه على ذلك
    Dari ’Ubadah bin Ash-Shaamit radliyallaahu ’anhu ia berkata : Ketika Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam berada di dalam sebuah majelis, beliau bersabda : ”Berbaiatlah kamu sekalian kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun juga, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kalian, tidak berkata dusta, dan tidak berhenti menganjurkan kebaikan. Barangsiapa di antara kalian memenuhi janjinya dalam hal tersebut, maka Allah lah yang menanggung pahalanya. Barangsiapa yang berdosa (dengan melanggar perjanjian tersebut), lalu ia disiksa di dunia, maka siksanya itu sebagai pelebur dosanya. Dan barangsiapa yang berdosa (dengan melanggar perjanjian tersebut), kemudian Allah menutupi dosanya di dunia, maka kelak di akhirat terserah kepada Allah. Jika Allah berkehendak, maka Allah akan memaafkannya; dan jika Allah berkehendak, maka Allah akan menyiksanya”. ’Ubadah berkata : ”Maka kami pun berbaiat kepada beliau shallallaahu ’alaihi wasallam atas hal tersebut” [HR. Al-Bukhari no. 18]. 
    Bahkan, penerimaan dakwah tauhid ini menjadi tolok ukur diperangi atau tidaknya satu kaum sebagaimana sabda beliau shallallaahu ’alaihi wasallam :
    أمرت أن أقاتل النـاس حتى يقولــوا: لا إلـه إلا الله، فمــن قــال: لا إله إلا الله، عصم مني ماله ونفسه إلا بحقه، وحسابه على الله
    ”Aku diperintahkan (Allah) untuk memerangi manusia hingga mereka mengatakan : ‘Tidak ada tuhan yang berhak untuk disembah kecuali Allah’. Barangsiapa yang mengatakan ‘Tidak ada tuhan yang berhak untuk disembah kecuali Allah’, maka harta dan jiwanya terlindungi dariku kecuali karena haknya; dan oleh Allah lah hisab baginya”.
    Orientasi dakwah inilah yang harus kita jalankan di masa sekarang. Adapun Daulah/Khilafah, maka itu merupakan janji/anugrah Allah yang akan Allah tunaikan jikalau kaum muslimin merealisasikan tujuan mereka diciptakan; yaitu beribadah kepada-Nya semata dan meninggalkan aneka macam kesyirikan, serta beramal shalih sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam. Allah ta’ala telah berfirman :
    وَعَدَ اللّهُ الّذِينَ آمَنُواْ مِنْكُمْ وَعَمِلُواْ الصّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكّنَنّ لَهُمْ دِينَهُمُ الّذِي ارْتَضَىَ لَهُمْ وَلَيُبَدّلَنّهُمْ مّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لاَ يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَـَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
    ”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." [QS. An-Nuur : 55]. 
    Dicabutnya kekuasaan kaum muslimin oleh Allah dengan keruntuhan Daulah ’Utsmaniyyah pada tahun 1924 adalah merupakan musibah yang diakibatkan oleh kesalahan kaum muslimin sendiri ketika mereka mulai jauh dari syari’at Allah. Allah berfirman :
    وَمَآ أَصَابَكُمْ مّن مّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُواْ عَن كَثِيرٍ
    “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” [QS. Asy-Syuuraa : 30]. 
    Bisa kita lihat di masa itu (bahkan hingga sekarang) aneka kesyirikan dan bid’ah merajalela. Budaya taqlid terhadap kuffar sudah bukan hal yang aneh jadi pemandangan.
    Oleh karena itu, sangat ironis jika ada sekelompok orang yang mendengung-dengungkan pengembalian khilafah sementara di kanan-kiri dan depan-belakang mereka orang-orang ramai melakukan praktek penyembahan kubur, perdukunan, sihir (juga : sulap), mengundi nasib, ber-zodiak ria, sinetron-sinetron mistik, dan yang semisal tanpa ada pengingkaran yang berarti. Bagaimana mungkin khilafah bisa ditegakkan dalam keadaan kondisi ini ? Diperparah lagi dengan kondisi banyaknya kaum muslimin yang meninggalkan shalat, zakat, puasa, dan haji yang notabene menjadi kewajiban pokok ’amaliy mereka. Jadi, janganlah heran jika penolakan konsepsi syar’i Khilafah Islamiyyah itu justru datang dari kaum muslimin sendiri. Ya,.... kaum muslimin yang fasiq nan bodoh.
    Jika kita (kaum muslimin) ingin mendapatkan kembali kekuasaan di muka bumi, maka kita harus mulai dengan apa yang dimulai oleh Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam sebagaimana yang telah disampaikan di atas. Memulai dari yang paling dasar, paling pokok, paling penting, dan paling mendesak (urgen) untuk dilaksanakan. Tentu saja tanpa menafikkan hal-hal lain yang merupakan bagian dari syari’at Islam. Jika kita telah menempuh sarana yang dipersyaratkan oleh Allah – sebagaimana tertera dalam QS. An-Nuur : 55 (yaitu ketauhidan, keimanan, dan amal shalih) – maka bukan mustahil kekhilafahan itu dikembalikan ke tangan kaum muslimin. Dan kalau pun misalnya kita dalam menegakkan dakwah tauhid ini Allah belum mentaqdirkan kita merasakan masa kekhilafahan Islam sebagaimana yang dijanjikan, maka kita tidak perlu putus asa dan isti’jal (tergesa-gesa) dalam berdakwah. Kita harus yakin bahwa janji Allah itu akan tiba jika kita melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Kesimpulan : Orientasi yang harus dilakukan oleh semua komponen dakwah Islam adalah menegakkan Dakwah Tauhid dan juga dakwah kepada (Al-Qur’an dan) As-Sunnah. Di sini kami tidak mengatakan bahwa penegakan khilafah tidak penting.[2] Segala sesuatu hendaknya diletakkan secara proporsional, sehingga melahirkan pemahaman dan pengamalan sesuai yang diinginkan syari’at. Wallaahu a’lam.
Abul-Jauzaa' - Dzulqa'dah 1429 [ditulis di Perum Ciomas Permai].
=============
Catatan kaki :
[1] Namun, boleh memutlakkan nama khalifah setelah era Khulafaur-Rasyidin dan Al-Hasan bin ’Ali ketika tidak ada tuntutan pembedaan dengan istilah malik (raja) atau mulk (kerajaan), seperti menyebut Khalifah Mu’awiyyah bin Abi Sufyan, Khalifah ‘Umar bin ‘Abdil-‘Aziz, Khalifah Harun Al-Rasyid, dan sebagainya. Berkata Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah :
ويجوز تسمية من بعد الخلفاء الراشدين ‏[‏خلفاء‏]‏ وإن كانوا ملوكا، ولم يكونوا خلفاء الأنبياء بدليل ما رواه البخاري ومسلم في صحيحيهما عن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال‏:‏ ‏(‏كانت بنو إسرائيل يسوسهم الأنبياء كلما هلك نبي خلفه نبي وإنه لا نبي بعدي وستكون خلفاء فتكثر، قالوا فما تأمرنا ‏؟‏ قال‏:‏ فوا ببيعةالأول فالأول، ثم أعطوهم حقهم، فإن الله سائلهم عما استرعاهم‏)‏‏.‏ فقوله‏:‏‏(‏فتكثر‏)‏ دليل على من سوى الراشدين فإنهم لم يكونوا كثيرا‏.‏ وأيضا قوله‏:‏‏(‏فوا ببيعة الأول فالأول‏)‏ دل على أنهم يختلفون، والراشدون لم يختلفوا‏
”Bolehnya menyebut khalifah terhadap orang-orang yang memimpin setelah era Khulafaur-Rasyidin, walaupun mereka sebenarnya adalah raja dan bukan pula sebagai pengganti para Nabi. Hal itu berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih mereka dari Abi Hurairah radliyallaahu ’anhu, dari Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bahwasannya beliau bersabda : <<”Adalah Bani Israail dibimbing oleh banyak nabi. Setiap kali seorang Nabi meninggal, maka digantikan oleh Nabi yang lain. Tidak ada Nabi lagi setelahku. Dan kelak akan ada beberapa khalifah yang kemudian menjadi banyak”. Mereka (para shahabat) bertanya : ”Apa yang engkau perintahkan kepada kami ?”. Beliau shallallaahu ’alaihi wasallam menjawab : ”Patuhilah khalifah yang mendapatkan baiat yang pertama, dan penuhilah hak mereka. Karena Allah kelak akan meminta pertangungjawaban atas kepemimpinan mereka”>>. Sabda Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam : fataktsuru (فتكثر) adalah sebagai dalil bahwasannya yang beliau maksudkan adalah selain Al-Khulafaur-Rasyidin, sebab Al-Khulafaaur-Raasyidiin tidaklah banyak jumlahnya. Dan juga sabda Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam : fuu bi-bai’atil-ula fal-ulaa (فوا ببيعة الأول فالأول); menunjukkan bahwasannya mereka berselisih, padahal Khulafaur-Rasyidin itu tidaklah berselisih” [selesai perkataan Ibnu Taimiyyah – Lihat Majmu’ Al-Fataawaa 35/20].
[2] Daulah/Khilafah hanya merupakan wasilah untuk melaksanakan kesempurnaan sebagian syari’at Allah. Seandainya ada orang yang berpendapat bahwa penegakan Daulah/Khilafah ini adalah wajib sebagaimana kaidah fiqhiyyah : Maa laa yatimmul-waajibu illaa bihi fahuwa waajib (Apa-apa yang tidak sempurna suatu kewajiban melainkan dengan sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib); maka kewajiban ini tidaklah menunjukkan prioritas (utama).
 Sebagaimana telah ma’ruf bagi orang yang berilmu bahwa tidak setiap kewajiban berada dalam kedudukan yang sama, sebagaimana kita pahami dalam hadits Mu’adz bin Jabal. Dalam hadits Mu’adz dijelaskan kedudukan masing-masing kewajiban yang terkait dalam rukun Islam. Dan penegakan khilafah tidak termasuk dalam rukun Islam, apalagi rukun iman. Oleh karena itu, kaidah fiqhiyyah tersebut juga dipahami bersama kaidah lain yang menyatakan bahwa kewajiban itu dilaksanakan menurut kemampuan (al-wujuub yata’allaqu bil-istitha’ah – kaidah ke-4, Al-Qawaaidu wal-Ushuulul-Jaami’ah karya ’Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy, ta’liq : Ibnu ’Utsaimin) yang didasarkan oleh firman Allah ta’ala :
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
”Bertaqwallah kalian kepada Allah semampu kalian” [QS. At-Taghaabun : 16].
Juga sabda Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam :
إذا أمرتكم بأمر فائتوا منه ما استطعتم
”Apabila aku memerintah kalian dengan sesuatu, maka kerjakanlah ia semampu kalian” [HR. Al-Bukhari no. 7288 dan Muslim no. 1337].