Rabu, 11 Mei 2016

PEMBINAAN AKHLAK YANG BAIK DAN BENAR GHIBAH DAN NAMIMAH

PEMBINAAN AKHLAK YANG BAIK DAN BENAR
GHIBAH DAN NAMIMAH




Dibuat Sebagai Tugas dalam Mata Kuliah Akhlaq
Dosen: DR. H. Munardji. M.Ag


Penyusun:
1.    Yusuuf Arifin
2.    Zaenal Arifin
3.    Zainatun Faizin

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM MUHAMMADIYAH
(STAIM) TULUNGAGUNG
2015



KATA PENGANTAR

BISMILLAHIRROHMANIRROHIIM

Dengan segala puji bagi Alloh swt,kami panjatkan. Atas petunjuk serta rahmatNya pula, kami telah berhasil munyusun sebuah makalah yang ditugaskan oleh dosen mata kuliah kami dengan pembahasan sebagaimana tertera pada judul yakni pembinaan akhlak yang baik .Disini kami akan mengulas tentang ghibah dan namimah.
Sholawat salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan nabi agung kami Muhammad SAW, yang tak henti-hentinya kami harapkan syafa’atnya di dunia ini, bahkan hingga nanti di akhir zaman.
Ucapan terima kasih juga tak lupa kami sampaikan kepada; bapak ibu kami,saudara, anak ,istri,suami,dan handai taulan yang selama ini ikut memberikan selalu motivasi kepada kami sehinnga tersusunlah makalah ini.
Dengan tersusunnya makalah ini kami penyusun mengharap selalu saran dan kritik dari pembaca yang budiman sekiranya dapat menutupi lebih dan kurangnya isi makalah guna mengadakan perbaikan dikemudian harinya. dan besar harapan kami akan manfaat makalah ini kami buat untuk semua kalangan.

Tulungagung, 20 September 2015.

PENYUSUN






Daftar isi





































BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Ghibah dan Namimah adalah suatu penyakit hati. Ghibah adalah membicarakan perihal orang lain, yang bilamana yang dighibah mendengar pasti merasa jengkel dan benci. Sedangkan Namimah adalah mengadu domba antara satu orang dengan yang lainnya.
Perbuatan semacam ini merupakan kedzoliman, meskipun yang dibicarakan itu adalah nyata. Orang berbuat ghibah dan namimah adalah akibat dari dorongan hatinya yang telah dikuasai oleh hawa nafsu dan akhlaknya yang buruk.
Sedangkan orang yang berhati mulia dan berakhlak karimah tidak mau melakukan perbuatan tercela ini, sebab baginya membuat cacat orang lain sama dengan membuka keburukan diri sendiri. Karena itu, setiap kali akan membuka aib orang lain, ia selalu teringat pada cacatannya sendiri.
Membicarakan cacat orang lain itu lebih keji dari pada 30 kali perbuatan zina.demikianlah sebagian keterangan yang terdapat dalam suatu hadits.
Ketahuilah! Sesungguhnya kelemahan seseorang dari menjauhi perkara yang tidak kamu sukai itu sebagaimana kelemahan dirimu dari menjauhi perkara tersebut. Jika engkau tidak suka bila kecacatanmu dan rahasiamu dibuka dihadapan umum, maka orang lain pun tidak suka bila kecacatannya disingkap dihadapan masyarakat. [1]
Untuk itu, hiasilah hatimu dengan akhlak yang terpuji, jahuilah prasangka buruk terhadap siapapun, serta hindari menggunjingkan orang lain. Sebab perbuatan ini merupakan tipu daya syetan yang akan menjatuhkanmu ke dalam lembah kefasikan.
Bersihkan hatimu dari penyakit ini, sebab semua perbuatan jahat yang membawa kepada akhlak madzmumah adalah bersumber dari hati. Hati yang keruh dan kotor paling mudah dihinggapi oleh noda-noda kefasikan.lebih-lebih bila mengingat bahwa ghibah da namimah itu adalah dosa besar. Jangan lupa untuk selalu memohon ampunan kepada Alloh Swt, juga mohon perlindunganNya agar diselamatkan dari segala bujuk rayu setan.
Sehubungan dengan pentingnya pemahaman akhlak terpuji yang demikian rumit dan kompleks, penyusun bermaksud merangkai makalah dengan tema konsep Ghibah dan Namimah. Makalah ini disusun dengan harapan bahwa dalam mengamalkan akhlak terpuji kita tidak terjebak pada perilaku Ghibah dan Namimah.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana yang dimaksud dengan Ghibah?
2.      Bagaimana yang dimaksud dengan Namimah?
3.      Bagaimana hukum Ghibah dan Namimah?

C.    Identifikasi Permasalahan
1.      Ghibah
a.       Pengertian Ghibah
b.      Bentuk-bentuk Ghibah
c.       Pemicu Ghibah
d.      Kemadhorotan dalam Ghibah
2.      Namimah
a.       Pengertian Namimah
b.      Perilaku yang cenderung namimah
c.       Kemadhorotan dalam Namimah
3.      Hukum Ghibah dan Naminah
4.      Perbedaan Ghibah dan Namimah
5.      Kiat menghindari Ghibah dan Namimah

D.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui konsep tentang Ghibah.
2.      Untuk mengetahui konsep tentang Namimah.
3.      Untuk mengetahui konsep tentang hukum Ghibah dan Namimah.

E.   Manfaat Penulisan
·         Sebagai bahan pembinaan akhlak, khususnya dalam mendorong perilaku yang dapat menghindarkan diri dari bahaya ghibah dan namimah, serta mendorong kebiasaan menjauhi akhlak madzmumah yang dibenci oleh Alloh Swt. dan rosulNya.


·         Sebagai bahan perenungan dalam meneladani sifat - sifat terpuji para alim ulama, shohabat, dan para ahli filsafat yang bijaksana dan berilmu, baik di kalangan masyarakat kita sendiri maupun di luar daerah ataupun Negara tetangga.
·      Sebagai bahan kajian tim penyusun dalam mendekatkan diri kepada Ilahirobbi penguasa jagad raya, dan senantiasa mengharap rohmatNya di segala keadaan tempat dimana kita berpijak.
·         Sebagai bahan acuan bagi penulis selanjutnya untuk lebih menyempurnakan penyusunan konsep ghibah dan namimah dengan referensi yang lebih mendalam dan actual.









BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Ghibah
1.      Pengertian ghibah
Ghibah secara umum adalah membicarakan keburukan orang lain baik sengaja ataupun tidak, yang dimana orang yang kita bicarakan akan merasa tidak nyaman apabila mendengar apa yang kita bicarakan tentangnya.
Dalil Al-Qur’an menyatakan sebagai berikut:
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka, karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-Hujurat: 12)

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
“Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab: “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahuinya.” Nabi berkata: “Engkau membicarakan saudaramu dengan sesuatu yang dia benci.” Ada yang bertanya: “Bagaimana pendapat anda jika padanya ada apa saya bicarakan?” Beliau menjawab: “Jika ada padanya apa yang engkau bicarakan maka engkau telah mengghibahnya, dan jika tidak ada padanya apa yang engkau bicarakan maka engkau berbuat buhtan terhadapnya.” [HR Muslim (2589)]
Ghibah menurut bahasa arab ialah: menyebutkan kata-kata keji atau meniru-niru suara atau perbuatan orang lain dibelakangnya dengan maksud untuk menghinanya.
Secara istilah ghibah adalah membicarakan kejelekan dan kekurangn orang lain dengan maksud mencari kesalahan-kesalahannya baik jasmani, agama, kekayaan, akhlak, ataupun bentuk lahiriyah lainnya. menurut para ahli sebagai berikut:
-          Menurut Ibnu Mas’ud berkata: “Ghibah adalah engkau menyebutkan apa yang kau ketahui pada saudaramu, dan jika engkau mengatakan apa yang tidak ada pada dirinya berarti itu adalah kedustaan”.
-          Menurut Syaikh Salim Al-Hilali: “Ghibah adalah menyebutkan aib (saudaramu), oleh karena dia dalam keadaan goib(tidak hadir di hadapan engkau), oleh karena itu saudaramu yang goib tersebut disamakan dengan mayat, karena si goib tidak mampu untuk membela dirinya. Dan demikian pula mayat tidak mengetahui bahwa daging tubuhnya dimakan sebagaimana si goib juga tidak mengetahui Ghibah yang telah dilakukan oleh orang yang mengghibahnya”.
2.      Bentuk-bentuk ghibah
-          Menggunjingkan keturunan,
Yakni umpatan yang mengaitkan dengan orang tua atau nenek moyangnya,atau anak cucunya, bisa dikatakan mengumpat keturunan, dan bisa memicu permusuhan yang lebih luas yang melibatkan keluarga dan sukunya.
Rosululloh saw bersabda: “Dua kelakuan manusia yang dapat menyebabkan kafir, yaitu menghina turunan (nasab) dan bersedu –sedu menangisi orang mati”.
-          Menggunjingkan akhlaq
Maksudnya adalah mencela tabiatnya atau tingkah laku seseorang dengan perkataan yang tidak disukai atau perkataan yang dapat menyinggung perasaanya.
Diriwayatkan Mu’az bin jabal ra berkata:’Sekelompok sahabat menceritakan saudaranya kepada Rosullulloh saw. mereka berkata:” alangkah lemahnya dia itu.” maka Rosulilloh saw bersabda:”Kamu telah mengumpat saudaramu”. Mereka mengatakan: “ Kami mengatakan apa adanya”. Rosul berabda:” kalau kamu mengatakan sesuatu yang tidak ada padanya, maka kamu telah berbuat dusta kepadanya”.

-          Menggunjingkan agama
Umpatan ini berhubungan langsung dengan aktifitas ibadah seseorang, atau terhadap pemahaman ajaran agamanya. Contoh: “dia tidak ,pernah sholat, hajinya mardud, dsb”.
-          Menggunjingkan pakaian
Yang dimaksud dengan ini adalah menggunjingkan orang lain dengan sesuatu yang berkaitan dengan yang dikenakannya.
Aisyah r.a berkata: “Janganlah seorang diantara kalian mengumpat orang lain.Aku pernah berkata: “Sesungguhnya pakaian wanita itu terlalu panjang.” Saat itu aku berada didekat Rosululloh saw. Dan beliau bersabda : “ Muntahkanlah! Muntahkanlah! Ternyata aku memuntahkan segumpal daging.”
-          Menggunjingkan bentuk fisik
Membicarakan atau mengomentari anggota badan seseorang dengan perkataan yang tidak disenangi oleh orang yang memilikinya.
Rosululloh Saw. bersabda: “Jika apa yang kamu katakan itu ada pada dirinya, maka kamu telah mengumpatnya,sedangkan bila apa yang kamu katakana tidak ada padanya, maka kamu telah berdusta kepadanya.”
-          Ghibah tanpa lisan
Ghibah tanpa lisan dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya sebagai berikut:
a.)    Dengan menggunakan isyarah anggota tubuhnya tetapi sudah dapat ditangkap maksudnya yang bernada melecehkan.
b.)    Dengan menirukan gerakannya,biasanya ini dilakukan oleh seorang badut, pelawak, atau orang yang ingin mencari perhatian orang lain. Dengan itu akan ditertawakan.
c.)    Dengan tulisan. Biasanya lebih tajam dan mengena. Sebab tulisan salah satu dari dua lisan.
-          ghibah tanpa sadar
1)      Memberi pengertian kepada orang yang diajak bicara.
2)      Dalam bentuk do’a
-          Menggunjing dalam bentuk pujian
1)      Mengungkit kekurangan dimasa lampau
2)      Mendengarkan umpatan.
3.      Pemicu – pemicu ghibah
-          Melampiaskan kemarahan.
-          Solidaritas antar teman kekhawatiran dihujat orang
-          Karena dituduh
-          Untuk membanggakan diri.
-          Adanya kedengkian
-          Bersenda gurau
-          Mengejek.
4.      Kemudhorotan di dalam ghibah
-          Dosanya tidak terampuni.
Sebagian ulama berkata:” pada hari kiamat ada orang yang menerima buku amal perbuatannya, lantas tidak ada kebaikannya. Lalu ia berkata: “Dinamakah sholat, puasa dan amal shalehku ? “. Ada malaikat yang menjawab: “Seluruh amal perbuatanmu telah lenyap, lantaran kamu sering mengumpat orang banyak.”
-          Merusak wajah sendiri
Sebagaimana diriwayatkan oleh Anas ra.: Rosululloh pernah bersabda: Pada malam di isra’kan aku bertemu dengan beberapa kaum yang mencakar mukanya dengan kukunya, kemudian aku bertanya: “ Hai jibril, siapa mereka itu?”. Jibril menjawab: “ Mereka adalah orang – orang yang mengumpat manusia dan mencaci maki kehormatannya mereka”.
-          Sama dengan membuka aib sendiri
Orang yang berghibah biasanya membongkar kejelekan orang lain.Karena dengan menjelek jelekkan orang berarti secara tidak langsung kita juga mengorek kejelekan diri sendiri.Sebagaimana diriwayatkanoleh Al-Barra’bin Azib, ia berkata: Rosululloh SAW berkhutbah kepada kami sampai didengar oleh gadis-gadis yang ada di rumahnya. Dalam khutbahnya beliaubersabda: “ Hai golongan orang yang beriman dengan lisannya dan tidak beriman dengan hatinya, janganlah kalian mengumpat kaum muslimin dan jangan menyelidiki aib mereka.Barang siapa menyelidiki aib saudaranya niscaya Alloh akan menyelidiki aibnya. Barang siapa yang aibnya diselidiki oleh Alloh niscaya Alloh membuka aibnya di dalam rumahnya”.
-          Masuk neraka lebih awal
Seperti yang difirmankan oleh Alloh Swt. kepada Nabi Musa as. :  “Barangsiapa meniggal sudah bertaubat dari perbuatan mengumpat, maka ia adalah orang yang terakhir masuksyurgs.Barang siapa meninggal dalam keadaan terus-menerus masih senang mengumpat, maka ia adalah orang yang pertama masuk neraka”.

-          Membatalkan puasa
Kebanyakan orang tidak tahu bahwa berghibah, dan mengumpat adalah dapat membatalkan puasa, yang mereka ketahui yang membatalkan puasa adalah makan, minum, muntah disengaja, memasukkan sesuatu kelubang tubuh dan bersetubuh disiang hari. Padahal ghibah juga termasuk membatalkan puasa.
Diriwayatkan Anas bin Malik, Rosululloh menyuruh manusia berpuasa sehari, lalu beliau bersabda: “sungguh janganlah salah seorang diantara kalian berbuka sehingga aku mengijinkannya”. Para sahabatpun berpuasa, menjelang saat maghrib tiba, ada seorang datang menghadap Rosululloh Saw. Seraya berkata”Ya Rosululloh, aku berpuasa,maka ijinkankah aku berbuka”. Rosululloh mengijinkannya, dan hingga datang lagi seorang berkata: “Ya rosululloh, ada dua orang gadis dari keluargamu( orang Quraisy) berpuasa dan keduanya malu untuk datang, maka ijinkanlah keduanya berbuka!”. Mendengar perkataan tersebut, Rosululloh berpaling dari orang itu. Orang itu kemudian mengulangi permintaannya, Rosululloh berpaling untuk kedua kalinya. Orang tersebutmasih mengulangi lagi permintaannya, maka beliau bersabda: “Sesungguhnya kedua gadis itu tidak berpuasa.Bagaiman berpuasa orang yang sepanjang hari makan daging manusia.Pergilah lalu suruhlah memuntahkan kalau keduanya benar-benar berpuasa.”. orang lelaki itu kembali dan menyuruh kedua gadis itu sebagaimana diperintahkan oleh Rosul.masing-masing dari keduanya memuntahkan segumpal darah .Lalu lelaki itu kembali kepad Rosululloh dan menceritakannya. Lantas Rosululloh bersabda” Demi Dzat, dimana diriku berada dalam kekuasaanNya, seandainya segumpal darah itu masih dalam perut kedua gadis tersebut, niscaya keduanya akan dimakan api neraka.” (HR.Abid Dunya)
-          Di siksa di dalam kubur.
Seperti diriwayatkan olehJabir bin Abdillah, berkata: “Kami bepegian bersama Rosululloh SAW kemudian beliaumendatangi kedua perkuburan yang kedua penghuninya disiksa. Beliau lalu bersabda: “Sesungguhnya penghuni keduakuburan ini disiksa. Dan keduanya tidak disiksa  karena dosa besar. Adapun seorang dari keduanya karena (suka) mengumpat manusia, sedang yang lain karena tidak membersihkan kencingnya”.

-          Memakan daging mentah
Abu Hanifah berkata: “Barang siapa di dunia memakan daging saudaranya, niscaya di akhirat kelak daging saudaranya itu didekatkan lantas dikatakan kepadanya: “Makanlah dia dalam keadaan bangkai sebagaimana kamu telah memakannya dalam keadaan hidup’. Ia kemudian memakannya dan berteriak dengan wajah muram”.
-          Mengjhilangkan kekhusyu’an di dalam beribadah
Orang yang mengumpat orang lain tentu tidak dapat berkosentrasi dalam beribadah. Terutama ketika sholat.Karena pikirannya tertuju pada orang yang di umpatnya.
-          Lupa dengan aibnya sendiri
Dikatakan lupa pada aibnya sendiri karena orang mengumpat atau mengghibah telah sibuk mencari keburukan orang lain sehingga untuk meneliti kekurangan diri sendiri ia telah lupa.

B.     Namimah
1.      Pengertian Namimah
Namimah (mengadu domda) merupakan dosa besar yang diperingatkan oleh Alloh swt dan rosulnya.perilaku jelek ini termasuk virus ganas yang mematikan yang dapat merusak tatanan kehidupan masyarakat serta melahirkan permusuhan dan pertikaian diantara kalngan masyarakat dan umat manusia.
Alloh Swt. mengingatkan bahaya namimah dalam firmanNya:
“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina,yang banyak mencela, yang kesana kemari mengumbar fitnah”. (QS. Al-Qolam: 10-11).



Dari kaca mata syari’at mengutip hadist Rosul:
“Maukah aku beri tahu kalian apa perkara buruk itu? Yaitu namimah, (sifatnya) senang menukil ucapan orang” HR. Muslim no.2606.

Namimah secara bahasa artinya hathab yang artinya kayu, atau suara pelan atau gerakan.Dan berasal dari bahasa arab yang artinya tumbuh menjadi besar.
Secara istilah namimah sebagai berikut:
-          Menceritakan perkataan seseorang kepada orang yang menjadi bahan pembicaraan.
-          Melakukan perbuatan yang dapat mengadu domba dua orang atau lebih.
Dengan demikian Namimah dapat berarti mengadukan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan mengadu domba antara keduanya.

2.      Perilaku yang cenderung Namimah
Salah satu contoh perbuatan Namimah adalah Politik devide et impera yang dilakukan oleh Belanda ketika menjajah Indonesia. Kerajaan-kerajaan di Indonesia saat itu diadu domba agar mereka bermusuhan. Setelah itu, Belanda menawarkan jasa kepada salah satu dari mereka untuk memberi bantuan. Sudah tentu, hancurlah salah satu kerajaan itu. Kerajaan yang menang itu pun tidak bisa tenang, karena akan diadu domba lagi dengan kerajaan lain, dan seterusnya. Dengan cara itu, perpecahan akan terus terjadi. Persatuan akan semakin jauh. Dengan kondisi seperti itu, Belanda pun akan terus dengan leluasa menjajah kita karena rakyat Indonesia dengan kerajaan-kerajaannya itu hanya sibuk memikirkan cara mengalahkan kerajaan lain. Karena itu, pantaslah belanda bisa menjajah kita sampai 350 tahun.
Diantara yang dapat disebutkan sebagai perilaku yang terindikasi Namimah adalah sebagai berikut:
-          Cenderung negatif thingking terhadap orang lain
-          Suka menjadi provokator
-          Suka membicarakan orang lain dan menfitnah
-          Menjadi orang munafik atau bermuka dua
-          Menfitnah orang lain dan berbohong kepada orang lain agar terjadi permusuhan di antara keduanya
-          Dengan mengadukan ucapan-ucapan kawan tersebut kepada direktur atau atasan dengan tujuan untuk memfitnah dan merugikan karyawan tersebut.
3.      Kemadhorotan dalam Namimah
Adu domba adalah tindakan tercela, yang mampu merusak hubungan silaturahim, kekerabatan, bahkan mampu membuat rumah tangga seseorang menjadi retak. Serta banyak kemudharatan lainnya.
Dari Ibnu Abbas yang berkata bahwa Rasulullah saw lewat di dekat dua kuburan, lalu beliau bersabda, “Keduanya sedang disiksa, dan mereka disiksa bukan karena perkara besar. Yang satu disiksa karena tidak menjaga (cipratan) air kencingnya, sedangkan yang kedua disiksa karena suka mengadu domba…” (HR. Bukhari, No. 218).

Imam Muslim meriwayatkan, …Hammam bin Al-Harits berkata; “Dulu ada orang yang sering melaporkan ucapan (orang lain) kepada amir (penguasa). Ketika kami sedang duduk-duduk di masjid, orang-orang berkata, ‘Itu adalah salah satu orang yang sering melaporkan ucapan (orang lain) kepada amir.’ Lalu orang itu duduk di dekat kami. Hudzaifah lantas berkata, ‘Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Tidak akan masuk surga pengadu domba.” (HR. Muslim, No. 291).
Jika terus melakukan tabiatnnya dan tidak bertobat, maka inilah akhir hidupnya. Yakni tidak akan masuk surga. Imam An-Nawawi dalam Syarahnya terhadap hadis ini mengatakan, para ulama mengatakan, bahwa namimah (adu domba) adalah memberitahukan pembicaraan seseorang lalu mengabarkannya kepada yang lain agar hubungan mereka menjadi rusak.[2] Imam An-Nawawi kemudian menukil pendapat Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali Rahimahullah, ia berkata dalam kitab Al-Ihya, “Namimah adalah mengutib pembicaraan seseorang lalu menceritakannya kepada pihak lain, seperti seseorang yang mengatakan bahwa fulan telah membicarakan demikian tentang kamu.
Ia (Al-Ghazali) menambahkan bahwa namimah tidak khusus dalam masalah ini saja, tetapi pengertian namimah adalah mengungkapkan sesuatu yang dibenci untuk diungkapkan, baik bagi orang yang mengatakannya maupun bagi orang yang mendengarnya, baik cara mengungkapkannya dengan isyarat, tanda atau gerakan. Oleh karena itu, hakikat namimah adalah menyebarkan rahasia dan membuka aib seseorang, padahal ia tidak menyukai jika hal tersebut terbongkar.[3] Contohnya adalah, jika seseorang melihat orang lain menyembunyikan hartanya lalu orang yang melihat menceritakan kepada orang lain, maka hal ini juga disebut sebagai namimah. Al-Ghazali mengatakan bahwa jika seseorang datang kepadamu lantas berkata, “Fulan telah membicarakan ini dan itu tentang dirimu.”
Oleh karena itu langkah yang harus ditempuh bagi orang yang mendengarnya adalah: Tidak mempercayai apa yang dikatakannya karena orang yang melakukan namimah adalah orang fasik. Melarangnya dari perbuatan tersebut serta menasehatinya bahwa perbuatannya tersebut adalah buruk. Membencinya karena Allah Ta’ala, karena perbuatan yang dilakukan itu dibenci oleh Allah Ta’ala.
Tidak boleh berprasangka buruk terhadap saudaranya pada saat dia tidak ada. Laporan yang didengarnya itu jangan sampai membuatnya untuk memata-matai dan mencari kesalahan orang lain. Tidak ridha untuk melakukan praktek namimah (adu domba) bagi dirinya sendiri. Oleh karena itu, hendaklah orang yang mendengar berita itu tidak menceritakannya kepada pihak lain sehingga dia pun akan seorang pengadu domba. Imam An-Nawawi berkata, Demikian penjelasan yang disampaikan Imam Al-Ghazali Rahimahullah.
Menurut Imam An-Nawawi semua yang disebutkan di atas (oleh Imam Al-Ghazali) hanya berlaku untuk praktek adu domba yang tidak ada sangkut pautnya dengan kemaslahatan syariat.
Namun, jika telah mengandung maslahat, maka boleh melakukannya, seperti mengabarkan kepada orang lain bahwa seseorang berkeinginan untuk membunuhnya, mengambil harta atau ingin mengganggu keluarganya, maka hal tersebut tidaklah mengapa.
Begitu pula halnya memberi informasi kepada pemimpin atau orang yang memiliki kekuasaan untuk menyingkapnya dan mencegahnya. Perbuatan semacam ini dan yang sejenisnya tidak diharamkan, terkadang menjadi wajib atau mustahab dan hal tersebut tergantung dengan kondisi.[4]

C.    Hukum  ghibah dan naminah
Hukum ghibah dan namimah adalah dosa besar. Ibnu Hazm menyatakan :  “Para ulama telah bersepakat atas haramnya perbuatan ghibah dan namimah kalau diletakkan bukan pada perkara nasehat yang diwajibkan, maka hal itu sekaligus sebagai dalil yang menunjukkan bahwa keduanya termasuk dosa besar”.
Pelaku Ghibah dan Namimah yang benar-benar ingin bertaubat,supaya taubatnya diterima disisi Alloh maka sebelumnya ia harus melakukan hal-hal sebagi berikut:
1.      Meminta maaf kepada orang yang disakiti
2.      menyesali perbuatannya
3.      Memuji dan mendo’akan kebaikan pada orang yang dighibah.
4.      Memohon ampun kepada Alloh SWT.
Pelaku namimah dapat dijerumuskan ke dalam neraka, sesuai sabda rosul Saw. berikut ini:
“Huzaifah r.a. berkata: Rasulullah saw. Bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang suka adu domba” (H.R. Muslim No.6065 Muslim No. 105)

Pelaku namimah mendapatkan adzab dalam kuburnya. Hal itu berdasarkan hadits yang telah disebutkan sebelumnya. Pelaku namimah termasuk dalam golongan hamba yang paling buruk kelakuannya. Sebagaimana sabda Rosululloh Saw:
“Hamba-hamba pilihan Alloh ialah orang-orang yang kalau kalian lihat sedang berdzikir kepada Alloh, dan hamba yang paling buruk kelakuannya adalah para penebar fitnah (tukang) mengadu domda, yang membikin orang saling bermusuhan, para perusak yang berusaha berlepas diri dari dosa”. HR. Ahmad 29/521 no. 15998

Imam adz-Dzahabi menjelaskan bahwa namimah termasuk dosa besar, hukumnya haram berdasarkan kesepakatan kaum muslimin. Sebagaimana nampak jelas keharamannya dalam dalil-dalil syar’i sebagaimana termaktub dalam al-Qur’an dan sunah. Adapun bantahan dari orang yang mengatakan namimah itu dosa kecil, terbantah dengan sabda Nabi Muhammad Saw: “Dan tidaklah keduanya diadzab melainkan karena dosa besar”.

D.    Perbedaan ghibah dan namimah.
Ghibah itu adalah membicarakan orang lain tanpa pengetahuannya dengan omongan yang dia tidak suka bila mendengarnya. Adapun namimah adalah menukil pembicaraan orang lain dengan tujuan menabur benih permusuhan. Sehingga bila ndicermati ghibah itu sifatnya pembicaraannya asli muncul dari redaksi orang yang menggunjing, sedang namimah hanya menukil ucapan orang lain saja. Diantara perbedaannya pula, ghibah itu bisa menjadi boleh pada kondisi-kondisi mendesak sesuai dengan tujuan syar’i. Adapun namimah maka tidak ada seorangpun ulama yang mengatakan bolehnyan pada kondisi tertentu.

E.     Kiat menghindari Ghibah dan Namimah
Untuk menghindari Ghibah dapat diterapkan kiat sebagai berikut:
1.      Dengan cara yang bersifat umum. Yakni secara garis besar. Maka harus memperhatikan beberapa faktor yang menjadi kuncinya, yakni: meyakini bahwa umpatan dan cacian itu bisa mendatangkan murka Alloh Swt. Sebab ghibah dapat menghapus kebaikan. Sesuai sabda Rosul Saw.: “Tidaklah api neraka itu memakan kayu kering lebih cepat dari pada umpatan dalam memakan kebaikan -  kebaikan hamba”.
2.      Dengan cara yang bersifat khusus, diantaranya ;
a.       Mengendalikan marah
b.      Tidak menyenangkan teman dengan kemungkaran
c.       Tidak menuduh orang lain untuk kepentingan pribadi
d.      Tidak membanggakan diri.
e.       Menghilangkan sifat hasud
f.       Tidak mengolok – olok
g.      Ikhlas dalam berbelas kasih
h.      Tidak mencela ahli maksiat.
Menurut Fuad Kauma mengemukakan tentang konsep penawar dan terapi ghibah. Dia menjelaskan bahwa ghibah diibaratkan suatu penyakit, maka penyakit berghibah pun ada penawar dan teraphynya. Hanya saja penawar dan teraphy ghibah ini tidak banyak orang yang melakukannya. Karena penawar dan teraphy ghibah adalah DIAM. Rosululloh bersabda: “Diam adalah akhlaq yang terbaik. Barangsiapa suka humor tentu dia akan disepelekan”.
Untuk menghindari atau teraphy / obat Namimah adalah:
1.      Mengikhlaskan ibadah hanya untuk Alloh SWT.
2.      Mengenal hakekat Namimah dampaknya, danjalan keluarnya.
3.      Berteman dengan orang – orang saleh.
4.      Selalu Muroqobah. Karena bermuroqobah kita merasa alloh SWT mengawasi tindak tanduk kita. “… dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada.”(Q.S AL- Hadid: 4).
5.      Berdo’a kepada Alloh SWT agar terhindar dari sifat Namimah.
Diantara hal yang bisa mengobati penyakit Namimah ini ialah hendaknya sang pelaku mengetahui bahwa dia sedang mengantarkan dirinya pada kemurkaan Alloh swt serta hukumannya. Dan mengingat bahwa namimah akan menghapus amal kebajikan yang pernah dilakukan.Demikian juga hendaknya ia selalu mengaca pad akekurangan yang ada pada dirinya, lalu berusaha untuk memperbaikinya.Dan hendaknya dia paham kalau menyakiti orang lain baik dengan ghibah maupun namimah sama seperti hanya dia menyakiti jasadnya, lalu bagaimana mungkin dia rela perbuatan tersebut menimpa dirinya.




BAB III
PENUTUP

A.kesimpulan
1.      Salah satu unsur penting dalam pembinaan akhlak yang baik dan benar adalah pada diri kita sendiri.Adapun menerapan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat adalah hal yang paling menunjang dalam pembiasaan ataupun praktik.
2.      Kita harus bisa memilah dan memilih mana yang termasuk akhlak mahmudah dan mana yang termasuk akhlak madzmumah hingga penerapannya dapat kita tegakkan dalam kehidupan sehari-hari.
3.      Diantara akhlak yang paling berbahaya dalam diri kita adalah akhlak madzmumah yakni ghibah dan namimah yang bahayanya tidak hanya kita rasakan di dunia saja., namun hingga kelak di akhirat.

B. Saran
1.      Jurus jitu menghindari akhlak madzmumah tersebut adalah dengan senantiasa berdzikir kepada Alloh azzawajalla.
2.      Mengutip mutiara hikmah Luqman Hakim golden ways karangan Rosickyn CH: dalam menghindari murka Alloh luqman berkata: “Wahai putraku, jangan kau berada dalam perkumpulan orang yang tidak berdzikir kepada Alloh.Sebab, jika kau adalah orang alim, maka ilmu yang kau miliki tidak akan bermanfaat.Dan jika kau adalah orang bodoh, niscaya kebodohan itu akan terus bertambah. Bahkan saat itu Alloh swt murka, niscaya kau akan termasuk dari mereka (yang dimurkai Alloh)”.
3.      Sebagai muslim yang baik, hendaknya kita tidak boleh tergesa-gesa dalam membenarkan ucapan orang lain yang belum terbukti kebenarannya.










DAFTAR PUSTAKA

1.      Fuad Kauma,Terapi ghibah, Isfa Press Jombang cetakan pertama tahun 2010
2.      Syaikh Amin bin Abdullah asy-Syaqawi,Islam House com 2013-1435
3.      Rosickyn CH,Lukman Hakim Golden Ways, Pustaka Gerbang lama1910-2010
4.      http://mutiaraelsa.blogspot.co.id/2012/03/menghindari-diri-dari-sifat-ghibah.html?m=1
5.      .// www.dreliman.or.id.//
6.      Alqur’an terjemah.
7.      Sharah Sahih,Imam An-Nawawi, Bab Penjelasan tentang Keharaman Mengadu – Domba.  Jilid I.Hal.805





[1] Fuad Kauma, 2010, Terapi Ghibah penawar Bagi Orang yang suka Menggunjing,Jombang: ISFA PRESS, h. 10
[2] Syarah Sahih Muslim, Imam An-Nawawi, Bab Penjelasan tentang Keharaman Mengadu-Domba. Jilid 1. Hal, 805.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar