Rabu, 11 Mei 2016

PERKEMBANGAN MAJELIS TARJIH PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH



MAKALAH
PERKEMBANGAN MAJELIS TARJIH PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH
Makalah Ini Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
KEMUHAMMADIYAHAN
DOSEN : Drs. H. Masrun, SH, M.Pd


Oleh:
KHOIRIYAH
MUHAMMAD HAMKA SAFI’I
YUSUUF ARIFIN
PAI B / II
PROGAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM MUHAMMADIYAH TULUNGAGUNG
Maret 2016

KATA PENGANTAR
Segala puji syukur kami ucapkan kehadirat ALLAH Subhaanahu Wata’aalaa atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang di ajukan untuk memenuhi salah satu mata tugas kuliah Kemuhammadiyahan” di STAIM Tulungagung.
Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam yang telah membimbing kita dari jaman jahiliah munuju ke zaman terang yakni agama islam.
Dengan selesainya makalah ini dengan judul “Perkembangan Majelis Tarjih Pendidikan MuhammadiyahPenyusun mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat  :
1.    Bapak Nurul Amin M.Ag Selaku Rektor STAI Muhammadiyah Tulungagung.
2.   Drs. H. Masrun, SH, M.Pd selaku Dosen Pembimbing  kami dalam pembuatan makalah ini. 
3.    Serta teman-teman yang telah banyak membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.Untuk itu dengan kerendahan hati,kami mengharap kepada semua pihak segala kritik dan saran atas kesempurnaan makalah ini.
Akhirnya dengan syukur alhamdulilah atas selesainya masalah yang kami buat ini, teriringi doa semoga bermanfaat bagi penyusun khususnya pembaca pada umumnya.

Tulungagung, 27 April 2016


Penyusun

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................. i
KATA PENGANTAR ............................................................................... ii
DAFTAR ISI .............................................................................................. iii
BAB I  :          PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang masalah.............................................. 1
B.           Rumusan Masalah....................................................... 2
C.           Tujuan Masalah........................................................... 2
BAB II :         PEMBAHASAN
A.          Sejarah Majelis Tarjih Muhammadiyah ...................... 3
B.           Awal Munculnya Lembaga Pendidikan
di Muhammadiyah...................................................... 5
C.           Cara Penyelenggaraan Pendidikan Muhammadiyah .. 7
BAB III:         PENUTUP
                        KESIMPULAN................................................................... 13                
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 14        


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Sebagai sebuah gerakan Islam yang lahir pada tahun 1912 Masehi dan kini hampir memasuki usia 100 tahun, telah banyak yang dilakukan oleh Muhammadiyah bagi masyarakat dan bangsa Indonesia secara luas. Sehingga harus diakui bahwa Muhammadiyah memiliki kontribusi dan perhatian yang cukup besar dalam dinamika kehidupan masyarakat Indonesia.
Dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, Persyarikatan Muhammadiyah telah menempuh berbagai usaha meliputi bidang dakwah, sosial, pendidikan, ekonomi, politik, dan sebagainya, yang secara operasional dilaksanakan melalui berbagai institusi organisasi seperti majelis, badan, dan amal usaha yang didirikannya.
KH. Ahmad Dahlan merumuskan sebuah sistem baru model pendidikan dengan menggabungkan sistem pondok dan gaya pendidikan barat yang dikemas untuk menyebarkan agama islam demi mencetak manusia yang mempunyai landasan gerakan tajdid dan tanzih dalam koridor Islam yang dikembalikan pada Al-Qur’an dan Al-Hadits, serta mengesampingkan status sosial maupun fasilitas yamg ada.


B.       Rumusan Masalah
1.         Apa tujuan KH. Ahmad Dahlan Mendirikan Muhammadiyah?
2.         Bagaimana Majelis Tarjih itu terbentuk?
3.         Seperti apa Sistem Pendidikan Muhammadiyah itu?

C.      Tujuan Penulisan
1.         Agar bisa mengetahui lebih jauh tujuan KH. Ahmad Dahlan Mendirikan Muhammadiyah.
2.         Agar kita bisa Mengetahui Sejarah Berdirinya Majelis Tarjih.
3.         Agar kita bisa Memahami Sistem Pendidikan yang telah dilakukan oleh Organisasi Muhammadiyah.



 BAB II
PEMBAHASAN
Cita-cita pendidikan yang digagas Kyai Dahlan adalah lahirnya manusia-manusia baru yang mampu tampil sebagai “ulama-intelek” atau “intelek-ulama”, yaitu seorang muslim yang memiliki keteguhan iman dan ilmu yang luas, kuat jasmani dan rohani. Dalam rangka menjamin kelangsungan sekolahan yang ia dirikan maka atas saran murid-muridnya Kyai Dahlan akhirnya mendirikan persyarikatan Muhammadiyah tahun 1912. Metode pembelajaran yang dikembangkan Kyai Dahlan bercorak kontekstual melalui proses penyadaran. Contoh klasik adalah ketika Sang Kyai menjelaskan surat al-Ma’un kepada santri-santrinya secara berulang-ulang sampai santri itu menyadari bahwa surat itu menganjurkan supaya kita memperhatikan dan menolong fakir-miskin, dan harus mengamalkan isinya. Setelah santri-santri itu mengamalkan perintah itu baru diganti surat berikutnya. Ada semangat yang musti dikembangkan oleh pendidik Muhammadiyah, yaitu bagaimana merumuskan sistem pendidikan ala  al-Ma’un sebagaimana dipraktekan Kyai Dahlan. Sebenarnya, yang harus kita tangkap dari Kyai Dahlan adalah semangat untuk melakukan perombakan atau etos pembaruan serta pengambilan dalil yang rajih (dalil yang paling shahih) sebagai pedoman, untuk itu pula Muhammadiyah membentuk Majelis Tarjih sebagai pencapaian untuk mendekati kebenaran yang bersumberkan pada Al-Qur’an dan As-sunnah.

A.   Sejarah Majelis Tarjih Muhammadiyah
KH. Ahmad Dahlan yang semasa kecilnya bernama Muhammad Darwis dilahirkan di Yogyakarta tahun 1968 atau 1969 dari ayah KH. Abu Bakar, Imam dan Khatib Masjid Besar Kauman, dan Ibu yang bernama Siti Aminah binti KH. Ibrahim penghulu besar di Yogyakarta. KH. Ahmad Dahlan kemudian mewarisi pekerjaan ayahnya menjadi khatib masjid besar di Kauman. Disinilah ia melihat praktek-praktek agama yang tidak memuaskan di kalangan abdi dalem Kraton, sehingga membangkitkan sikap kristisnya untuk memperbaiki keadaan.
Persyarikatan Muhammadiyah didirikan oleh Dahlan pada mulanya bersifat lokal, tujuannya terbatas pada penyebaran agama di kalangan penduduk Yogyakarta. Pasal dua Anggaran Dasarnya yang asli berbunyi (dengan ejaan baru):
Maka perhimpunan itu maksudnya adalah :
a.       Menyebarkan pengajaran Agama Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wassalam kepada penduduk Bumiputra di dalam residentie Yogyakarta.
b.       Memajukan hal Agama Islam kepada anggota-anggotanya.
Berkat kepribadian dan kemampuan Dahlan memimpin organisasinya, maka dalam waktu singkat organisasi itu mengalami perkembangan pesat sehingga tidak lagi dibatasi pada residensi Yogyakarta, melainkan meluas ke seluruh Jawa dan menjelang tahun 1930 telah masuk ke pulau-pulau di luar Jawa. 
Majlis Tarjih didirikan atas dasar keputusan kongres Muhammadiyah   ke- XVI pada tahun 1927, atas usul dari K.H. Mas Mansyur. Fungsi dari majlis ini adalah mengeluarkan fatwa atau memastikan hukum tentang masalah-masalah tertentu. Masalah itu tidak perlu semata-mata terletak pada bidang agama dalam arti sempit, tetapi mungkin juga terletak pada masalah yang dalam arti biasa tidak terletak dalam bidang agama, tetapi pendapat apapun juga haruslah dengan sendirinya didasarkan atas syari’ah, yaitu Qur’an dan Hadits, yang dalam proses pengambilan hukumnya didasarkan pada ilmu ushul fiqh. Majlis ini berusaha untuk mengembalikan suatu persoalan kepada sumbernya, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits, baik masalah itu semula sudah ada hukummnya dan berjalan di masyarakat tetapi masih dipertikaikan di kalangan umat Islam, ataupun yang merupakan masalah-masalah baru, yang sejak semula memang belum ada ketentuan hukumnya, seperti masalah keluarga berencana, bayi tabung, bank dan lain-lain.[[1]]
B.       Awal Munculnya Lembaga Pendidikan di Muhammadiyah 
Lahirnya pendidikan Muhammadiyah yang modern tidak lepas dari sejarah pada Dasawarsa terakhir abad 19 Pemerintah Belanda memulai system pendidikan liberal di Indonesia. Pendidikan ini diperuntukkan bagi sekelompok kecil orang Indonesia, sehingga tahun 1870 mulai tersebar jenis pendidikan rakyat, yang berarti juga diperuntukkan bagi umat Islam Indonesia. Perluasan pendidikan ke pedesaan yang diperuntukkan seluruh lapisan masyarakat, baru dilaksanakan pada awal abad ke 20 dengan apa yang dinamakan ethise politiek, sebagai akibat dari desakan kaum ethis yang berorientasi humanistic agar pemerintah colonial juga mulai memperhatikan rakyat pribumi di negeri jajahannya (steenbrink 1986 : 23; Kartodirjo, 1999:30)
Pada masa pemerintahnya (Belanda) terdapat model 4 model perskolahan belanda yaitu :
a.       Sekolah Eropa yang menampung anak birokrat Hindia Belanda. Dan kurikulumnya sama dengan negeri Belanda
b.      Sekolah Barat Sekolah yang menampung anak-anak yang berwarga Negara Belanda
c.       Sekolah Vernakuler Sekolah yang di desain oleh belanda demi kepentingan mereka sendiri
d.      Sekolah Pribumi, system sekolah yang ada di luar kendali Belandasekolah-sekolah yang di dirikanoleh lembaga agama
Sistem sekolah ini telah melahirkn jurang pemisah yangmakin melebar antara Belanda dengan penduduk pribumi. Di samping itu juga Pendidikan Islam yang berbasis di Pesantren tidak saja kontras dengan pendidikan colonial tetapi juga kontras dengan system didaktik-pedagogisnya. Pendidikan Islam tertinggal dan tidak dapat memberikan perspektif –perspektif k depan.
Menghadapi realitas sistem pendidikan Barat dan Islam yang dualistic ini, ahmad Dahalan mencoba mengatasi dengan cara perpaduan model sebagai jalan engah dari kebutuhan sistem yang ada. Upaya kompromi ini diawali dengan mengidentifikasi masalah yang di hadapi umat Islam pada wakti itu dan dipandang perlu segera mendapatkan jawaban dalam bidang pendidikan.
Untuk mensosialisasikan gagasan pembaruannya dalam bidang pendidikan, Ahmad Dahlan mencoba memulai dengan membimbing berbeapa orang keluarge dekat serta beberapa sahabatnya. Tempat yang pertama kali digunakan untuk menyampaikan gagasan-gagasannya adalah pengajian-pengajian dan tempat-tempat lain di mana ia memberikan pelajaran. Setelah upaya dalam menyampaikan benih-benih pembaruan diduga membuahkan hasil sehingga dibuat wadah untuk menampung gagasan tersebutyaitu “Pergerakan Muhammadiyah”.
Dari sejarah ini dapat dipahami bahwa : Pertama, Pendidikan Muhammadiyah lahir adalah dalam keadaan suasana pendidikan umat yang memperihatinkan, terutama pendangkalan nilai-nilai Islam dalam suatu proses penjajahan yang mengarah ke sekluerisasi. Kedua, cikal bakal Pendidikan Muahmadiyah Pendidikan Muhammadiyah adalah pengajian-pengajian dengan suasanan kesederhanaan yang langsung dibimbing Ahmad Dahlan. Ketiga, untuk mewujudkan cita-cita Pembaruan dalam pendidikan ini, Ahmad Dahlan dengan kesungguhannya dan secara terus menrus menanamkam benih-benih pembaruan baik melalui sekolah di mana ia mengajar maupun ceramah-ceramahnya. Pada proses selanjutnya, pendidikan Muhammadiyah ini berkembang dengan pesat, sekaligus mempunyai spesifik, yaitu sistem pendidikan yang mengajarkan ilmu pengetahuan umum dan ilmu pengetahuan agama. Pendidikan Muhammadiyah tumbuh dan berkembang seiring dengan dinamika masyarakat.[[2]]
Pesatnya perkembangan Pendidikan Muhammaadiyah ini juga dibuktikan dengan beberapa sekolah yang tertua yaitu :
a.       Kweekschool Muhammadiyah Yogyakarta
b.      Muallimin Muhammadiyah, Solo, Jakarta.
c.       Muallimat Muhammadiyah, Yogyakarta
d.      Zu’ama/Za’imat, Yogyakarta
e.       Kulliyah Mubalighin/Mubalighot, Sumatera Tengah
f.       Tablighscool, Yogyakarta
g.      H.I.K Muhammadiyah Yogyakarta.
h.      Wustho Muallimin.[[3]]

C.     Cara penyelenggaraan Pendidikan Muhammadiyah
Sejarah perjalanan dan kiprah tokoh pendiri Muhammadiyah dalam membangun dan mengelolah Pendidikan Muhammadiyah pada masa awal berdasarkan hal-hal berikut:
Pertama, dari sudut pandang sejarah, dapat diperhatikan bagaimana generasai awal Muhammadiyah membangun Pendidikannya dengan mekanisme bottom up. Aspek sosiologis agaknya jadi pertimbangan penting dalam desain pendidikan Muhammadiyah. Semua amal usaha (pendidikan) Muhammadiyah didirikan atas prakarsa umat dari bawah. Tidak satupun institusi Pendidikan Muhammadiyah yang dibangun berdasarkan surat keputusan (SK) atau instruksi dari kantor pimpinan pusat (Suyanto, 2003:93). Dengan kata lain by birth, demokratisasi sistem pendidikan dalam tahapan tertentu sudah terwujud, karena pendidikan Muhammadiyah lahir dari dan untuk “umat” Muhammadiyah.
Kedua, sistem pendidikan yang berbeda dari umumnya sistem pendidikan yang ada di masyarakat sehingga menjadi pendidikan alternative. Desain awal pendidikan Muhammadiyah berangkat dari motivasi teologis yang kuat; yaitu manusia akan mencapai derajat keimanan dan ketaqwaan yang sempurna jika memiliki kedalaman ilmu pengetahuan (Mu’ti, 2003 : 103). Inilah yang kemudian menjadi garis pembeda antara out put pendidikan Muhammadiyah dengan out put pendidikan konvesional barat dan pendidikan tradisonal. Eksistensi pendidikan Muhamadiyah pada waktu itu memiliki nilai tawar yang tinggi karena mampu melhirkan generasi yang “lebih sempurna”.
Ketiga, oreintasi ke depan dalam penyelenggaraan pendidikan Muhammadiyh berorientasi mempersiapkan lulusannya untuk memasuki Indonesia baru yang merdeka dengan segala modernitasnya. Dengan perkataan lain, Pendidikan Muhammadiyah harus menyiapkan anak didiknya agar tetap survive di masa yang akan datang. Karena masa yang akan datang tentu akan berbeda dengan masa yang sekarang.
Keempat, pengorbanan baik pikiran, tenaga maupun harta. Pada umumnya pada perintisan pendidikan Muhammadiyah adalah orang yang sadar akan panggilan perjuangan. Mereka berkorban untuk kepentingan pengembangan pendidikan, amal usaha Muhamadiyah yang diharapkan menjadi penyangga masa depan gerakan. Pengemabngan Pendidikan Muhammadiyah mesti mempertimbangkan aspek nilai dan aspek spirit perjuangan tokoh-tokoh terdahulu, mewarisi keteladanan mereka dengan tetap mempertimbangkan propesionalisme dalam pengelolaannya, sejalan dengan tuntutan zaman.
     Pada intinya, penyelenggaraan pendidikannya dilakukan oleh Majelis Penyelenggara, dan pengelolaan teknisnya dilaksanakan oleh kepala sekolah masing-masing,” ucap Abdul Mu’ti.
Lebih jauh Abdul Mu’ti mengungkap, “Dalam pengelolaan lembaga pendidikan dan sekolah di Muhammadiyah, dijalankan konsep sentralistik konsultatif.”  Dalam pengertian bahwa pengembangannya tak bisa dilakukan secara terpisah-pisah tanpa melibatkan pimpinan persyarikatan. Hingga dalam proses seleksi dan pengangkatan guru, tak sepenuhnya dilakukan oleh kepala sekolah, melainkan melibatkan Majelis Dikdasmen dan Pimpinan Persyarikatan Muhammadiyah.[[4]]
1.      Pembaharuan dan Inovasi dalam Bidang Pendidikan.
Dalam kegiatan pendidikan dan kesejahteraan sosial, Muhammadiyah mempelopori dan menyelenggarakan sejumlah pembaharuan dan inovasi yang lebih nyata. Bagi Muhammadiyah, yang berusaha keras menyebarluaskan Islam lebih luas dan lebih dalam, pendidikan mempunyai arti penting, karena melalui inilah pemahaman tentang Islam dapat diwariskan dan ditanamkan dari generasi ke generasi.
Pembaharuan pendidikan ini meliputi dua segi, yaitu segi cita-cita dan segi teknik pengajaran.
a.    Dari segi cita-cita, yang dimaksud K.H. Ahmad Dahlan ialah ingin membentuk manusia muslim yang baik budi, alim dalam agama, luas dalam pandangan dan paham masalah ilmu keduniaan, dan bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakatnya.
b.    Adapun teknik, adalah lebih banyak berhubungan dengan cara-cara penyelenggaraan pengajaran.
Gagasan pendidikan Muhammadiyah adalah untuk mendidik sejumlah banyak orang awam dan meningkatkan pengetahuan masyarakat. Dalam usaha merealisasi gagasan tersebut, Muhammadiyah sejak masa kepemimpinan Ahmad Dahlan, telah berusaha keras untuk mengawinkan antara dua sistim pendidikan, pesantren (pendidikan agama pedesaan di bawah tuntunan kyai/ulama) dan sekolah model barat, dengan menghilangkan kelemahan dari keduanya. Menurut Muhammadiyah, pendidikan pesantren tradisional membutuhkan waktu terlalu banyak bagi santri untuk menyelesaikannya, juga kurang adanya sistim kelas atau penjenjangan. Pesantren biasanya hanya terbatas pada sejumlah kecil mata pelajaran tertentu, sehingga santri harus memasuki dan tinggal di beberapa pesantren agar sempurna ilmunya. Pesantren tradisional tidak cukup membekali santrinya dalam memecahkan masalah-masalah keduniawian, karena lembaga-lembaga tersebut tidak mengajarkan pelajaran-pelajaran sekuler. Di pihak lain, pendidikan model Barat hanya mengajarkan ketrampilan praktis, pengetahuan dan ilmu umum, tetapi tidak mengajarkan ketrampilan akhlak, budi pekerti, dengan bersandar kepada ajaran Islam. Muhammadiyah merasa perlu menggabungkan keduanya : pendidikan untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akherat. Atau dengan kata lain, bahwa dengan sistim pendidikannya itu, Muhammadiyah ingin membentuk ulama intelek dan atau intelek yang ulama.
Dengan mengambil unsur-unsurnya yang baik dari sistim pendidikan Barat dan sistim pendidikan tradisional, Muhammadiyah berhasil membangun sistim pendidikan sendiri, seperti sekolah model Barat, tetapi dimasuki pelajaran agama di dalamnya, sekolah dengan menyertakan pelajaran sekuler, bermacam-macam sekolah kejuruan dan lain-lain. Sedang dalam cara penyelenggaraannya, proses belajar mengajar itu tidak lagi dilaksanakan di masjid atau langgar, tetapi di gedung khusus, yang di lengkapi dengan meja, kursi dan papan tulis, tidak lagi duduk di lantai.
Selain pembaharuan dalam lembaga pendidikan formal, Muhammadiyah pun telah memperbaharui bentuk pendidikan tradisional non formal, yaitu pengajian. Semula pengajian di lakukan di mana orang tua atau guru privat mengajar anak-anak kecil membaca Al-Qur’an dan beribadah. Oleh Muhammadiyah diperluas dan pengajian disistematiskan ke dalam bentuk pendidikan agama non formal, di mana pesertanya lebih banyak juga isi pengajian diserahkan pada masalah-masalah kehidupan sehari-hari umat Islam. Begitu pula Muhammadiyah dalam usaha pembaharuan ini telah berhasil mewujudkan bidang bimbingan dan penyuluhan agama dalam masalah-masalah yang diperlukan dan mungkin bersifat pribadi, seperti Muhammadiyah telah memelopori mendirikan Badan Penyuluhan Perkawinan di kota-kota besar. Dengan menyelenggarakan pengajian dan nasihat yang bersifat pribadi tersebut, dapat ditunjukkan bahwa Islam menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia.
2.      Muhammadiyah di Masyarakat
Di bidang sosial dan kemasyarakatan, maka secara singkat kami jelaskan bahwa berbagai usaha yang telah dirintis oleh Muhammadiyah adalah didirikannya rumah sakit poliklinik, rumah yatim piatu, yang dikelola melalui lembaga-lembaga dan bukan secara individual sebagaimana dilakukan orang pada umumnya di dalam memelihara anak yatim piatu. Usaha pembaharuan dalam bidang sosial kemasyarakatan ditandai dengan didirikannya Pertolongan Kesengsaraan Oemoem (PKO) pada tahun 1923. Ide di balik pembangunan dalam bidang ini karena banyak di antara orang Islam yang mengalami kesengsaraan, dan hal ini merupakan kesempatan bagi kaum muslimin untuk saling tolong-menolong termasuk dalam hal pendidikan.
Perhatian pada kesengsaraan umum dan kewajiban menolong sesama muslim, tidak hanya sekedar karena rasa cinta kasih pada sesama, tetapi juga ada tuntunan agama yang jelas untuk beramar ma’ruf. Sebagai perwujudan sosial dari semangat beragama. Hal ini merupakan gerakan sosial dengan ilham keagamaan. Contohnya ialah pengamalan firman Allah Ta’ala dalam Surat Al-Ma’un (terjemahannya) :
“Tahukah engkau orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tiada menganjurkan menyantuni orang miskin. Celakalah orang-orang yang shalat, yaitu lalai dari shalatnya, orang-orang yang riya’ dan tiada mau menolong dengan barang-barang yang berguna.”
Ajaran ini direalisasikan oleh Muhammadiyah melalui pendirian rumah yatim, klinik, rumah sakit dan juga melalui pembaharuan cara mengumpulkan dan mendistribusikan zakat. Dapatlah disimpulkan, bahwa pembaharuan sosial kemasyarakatan yang dilakukan Muhammadiyah, merupakan salah satu wujud dari ketaatan beragama, dalam dimensi sosialnya, atau dimaksudkan untuk mencapai tujuan keagamaan.[[5]]



BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
1.      Cita-cita pendidikan yang digagas Kyai Dahlan adalah lahirnya manusia-manusia baru yang mampu tampil sebagai “ulama-intelek” atau “intelek-ulama”, yaitu seorang muslim yang memiliki keteguhan iman dan ilmu yang luas, kuat jasmani dan rohani.
2.      Majlis Tarjih didirikan atas dasar keputusan kongres Muhammadiyah   ke- XVI pada tahun 1927, atas usul dari K.H. Mas Mansyur. Fungsi dari majlis ini adalah mengeluarkan fatwa atau memastikan hukum tentang masalah-masalah tertentu. Masalah itu tidak perlu semata-mata terletak pada bidang agama dalam arti sempit, tetapi mungkin juga terletak pada masalah yang dalam arti biasa tidak terletak dalam bidang agama, tetapi pendapat apapun juga haruslah dengan sendirinya didasarkan atas syari’ah, yaitu Qur’an dan Hadits.
3.          Dalam kegiatan pendidikan dan kesejahteraan sosial, Muhammadiyah mempelopori dan menyelenggarakan sejumlah pembaharuan dan inovasi yang lebih nyata. Bagi Muhammadiyah, yang berusaha keras menyebarluaskan Islam lebih luas dan lebih dalam, pendidikan mempunyai arti penting, karena melalui inilah pemahaman tentang Islam dapat diwariskan dan ditanamkan dari generasi ke generasi. Pembaharuan pendidikan ini meliputi dua segi, yaitu segi cita-cita dan segi teknik pengajaran.





DAFTAR PUSTAKA
Majelis Tarjih dan Tajdid, SEJARAH, file:///E:/MAKALAH/KMD/Sejarah%20-%20Majelis%20Tarjih%20dan%20Tajdid%20_%20Muhammadiyah.html  01 April 2016. 24 Jumadil Akhir 1437 H.
Wibisono, Yusuf. Muhammadiyah dan Pendidikan , file:///E:/MAKALAH/KMD/Muhammadiyah%20dan%20Pendidikan%20-%20Garasi%20Keabadian.html ,Jumat, 15 Maret 2013.






[1] . Majelis Tarjih dan Tajdid, SEJARAH, file:///E:/MAKALAH/KMD/Sejarah%20-%20Majelis%20Tarjih%20dan%20Tajdid%20_%20Muhammadiyah.html  01 April 2016. 24 Jumadil Akhir 1437 H.


[2] . Yusuf Wibisono ,Muhammadiyah dan Pendidikan , file:///E:/MAKALAH/KMD/Muhammadiyah%20dan%20Pendidikan%20-%20Garasi%20Keabadian.html ,Jumat, 15 Maret 2013

[3] . Ibid.
[4] . Ibid.
[5] . Majelis Tarjih dan Tajdid, SEJARAH, file:///E:/MAKALAH/KMD/Sejarah%20-%20Majelis%20Tarjih%20dan%20Tajdid%20_%20Muhammadiyah.html  01 April 2016. 24 Jumadil Akhir 1437 H.
             


Tidak ada komentar:

Posting Komentar